SNT Jadi Solusi Pemerataan Mutu Pendidikan
Tak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah dengan layanan pendidikan bermutu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Tak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar di sekolah dengan layanan pendidikan bermutu.
Di sejumlah wilayah, masih banyak kecamatan yang belum memiliki jenjang SMP maupun SMA dengan capaian pendidikan tinggi. Kondisi itu menjadi tantangan besar pemerintah dalam mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan.
Menjawab persoalan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menyiapkan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) sebagai salah satu langkah memperkecil kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah.
Program ini dirancang bukan hanya untuk membangun gedung sekolah baru, tetapi menghadirkan ekosistem pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan, pembangunan SNT merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya memperluas layanan pendidikan berkualitas.
Pemerintah menargetkan pembangunan 500 layanan SNT di kabupaten/kota secara bertahap hingga 2029.
“SNT juga diselenggarakan mengikuti arahan Bapak Presiden yang sangat jelas, yang di dalamnya pemerintah menyiapkan 500 layanan SNT secara bertahap sampai dengan tahun 2029,” kata Mu’ti dalam kegiatan Taklimat Media Program Sekolah Nasional Terintegrasi di Jakarta, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (20/7).
Menurut Mu’ti, persoalan pemerataan mutu pendidikan masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama.
Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) per 30 Juni 2025 dan Rapor Pendidikan 2025, baru 263 dari 7.288 kecamatan atau sekitar 4 persen yang memiliki SMP dan SMA dengan capaian baik.
Sekolah tersebut tercatat memiliki akreditasi A serta capaian literasi dan numerasi di atas 75. Namun, data tersebut bukan untuk memberi penilaian buruk kepada sekolah, guru, maupun pemerintah daerah.
Sebaliknya, data itu menjadi gambaran bahwa masih ada anak-anak di berbagai daerah yang belum mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan berkualitas. (gin)
Editor : Inilahkoran

