Soal Aksi Demonstrasi di Berbagai Daerah di Indonesia, Arif Havas Oegroseno: Itu Biasa Normal
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno menilai aksi demonstrasi yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia merupakan hal yang normal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno menilai aksi demonstrasi yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia merupakan hal yang normal.
Bahkan, menurutnya aksi tersebut merupakan hal yang biasa terjadi di luar negeri. Apalagi, Indonesia merupakan negara demokrasi.
Diketahui, aksi demonstrasi terjadi di berbagai daerah di Indonesia terus terjadi sebagai bentuk protes dan kekecewaan terhadap berbagai kebijakan, serta ketidakadilan pemerintah terhadap rakyat.
Berbagai elemen masyarakat mulai dari mahasiswa, driver ojol, buruh hingga pelajar SMA/SMK turun ke jalan untuk meminta keadilan. Puncaknya, Kamis 28 Agustus 2025 terjadi bentrokan antara massa demo dengan aparat yang meminta korban jiwa baik akibat terlindas maupun aksi kekerasan.
Tak hanya nyawa, berbagai fasilitas negara termasuk umum rusak akibat terkena lemparan batu hingga dibakar massa. Belum diketahui berapa kerugian akibat aksi demontrasi tersebut
"Oh demo, ya itu kan proses politik ya, jadi bagi negara demokrasi itu normal, yang namanya demo kan di negara demokrasi itu biasa, di Prancis, di Jerman, di Eropa itu biasa, normal, gak ada yang aneh," kata Arif Havas Oegroseno saat ditemui di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.
Lantaran hal tersebut merupakan pilihan politik di Indonesia dimana sistem demokrasi yang dipilih, lanjut Arif, jika tak ingin ada demonstrasi maka gunakan sistem politik lain.
"Tapi kan demokrasi ini bagian dari sistem politik Indonesia. Inget gak demo jaket kuning di Perancis, orang yang melihatnya bagian dari politik demokrasi itu," ujarnya.
"Kemudian demo di Eropa, Amerika dan kemarin ada jutaan massa, ya normal," ucapnya.
Meski begitu, Arif menyebut, aksi demonstrasi tersebut tak berdampak ke hubungan luar negeri lantaran dianggap sebagai bagian dari demokrasi.
"Menurut saya sih begitu ya, proses-proses demokrasi kan biasanya ada keterbukaan publik, ada yang menyampaikan pendapat melalui demonstrasi itu sendiri," ujarnya.
Seperti pernyataan yang disampaikan Presiden RI Prabowo Subianto, kata Arif, yang meminta masyarakat untuk menahan diri. Menurutnya, demonstrasi boleh dilakukan, namun tetap harus ada batasan-batasan.
"Khawatir juga kalau soal apa-apa jadi chaos. Tapi yang penting ada jalurnya," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani


