Soroti Kasus Pembunuhan Siswa SMP di Eks Kampung Gajah, Psikolog: ini Alarm Serius
Kasus pembunuhan siswa SMP yang ditemukan di lokasi eks Kampung Gajah jadi alarm serius bagi negara
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kematian tragis seorang siswa SMP yang jasadnya ditemukan di kawasan eks Kampung Gajah tidak hanya menyisakan luka mendalam bagi keluarga, namun juga mengangkat pertanyaan krusial tentang seberapa siap sistem bangsa ini dalam menjaga kesehatan mental generasi muda.
Psikolog Billy Martasandy menilai, peristiwa yang diduga dipicu konflik pertemanan ini harus dijadikan alarm besar untuk memperkuat intervensi komprehensif di sektor pendidikan dan perlindungan anak.
"Ketika seorang anak di bawah umur terpaksa melakukan tindakan ekstrem akibat beban emosional yang tak tertahankan, itu bukan sekadar kegagalan individu atau keluarga saja," kata Billy, Selasa 17 Februari 2026.
"Ini adalah bukti nyata adanya celah besar dalam sistem pendampingan yang seharusnya melindungi mereka," tegasnya.
Menurutnya, kondisi ini kian diperparah lantaran layanan konseling di sebagian besar sekolah masih jauh dari ideal. Banyak satuan pendidikan belum memiliki psikolog atau konselor terlatih dengan rasio yang memadai, padahal lingkungan sekolah kerap menjadi arena bagi konflik pertemanan, tekanan sosial, dan potensi perundungan.
"Kesehatan mental tidak boleh dianggap sebagai program tambahan semata. Ini harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kebijakan pendidikan nasional," tuturnya.
Oleh karena itu, Billy mengusulkan agar literasi emosional, keterampilan menyelesaikan konflik, dan pendidikan empati diintegrasikan secara terstruktur dalam kurikulum sekolah.
Meskipun motif kasus ini disebutkan karena masalah putus pertemanan, ahli yang juga fokus pada perkembangan remaja itu menekankan dinamika sosial kalangan muda seringkali sangat kompleks dan bisa melibatkan tekanan kelompok sebaya yang tak terlihat.
"Bullying atau pengucilan sosial bisa merusak harga diri anak secara bertahap dan perlahan. Jika tidak ada saluran pelaporan yang aman serta respons cepat dari pihak sekolah, dampaknya bisa berujung pada kondisi mental yang sangat parah," jelasnya.
Oleh karena itu, Billy mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk segera menetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dalam menangani kasus perundungan, termasuk mekanisme pengawasan dan evaluasi secara berkala.
"Pelatihan bagi guru untuk mendeteksi perubahan perilaku pada siswa juga dinilai sangat penting," ucapnya.
Selain itu, Billy mengusulkan adanya skrining kesehatan mental secara rutin di sekolah, terutama pada jenjang remaja awal yang sedang dalam tahap pembentukan identitas dan belajar mengendalikan emosi.
"Kita tidak boleh menunggu tragedi lain terjadi. Kasus di eks Kampung Gajah harus menjadi titik balik bagi pembenahan yang menyentuh akar masalah, mulai dari penyusunan kebijakan, alokasi anggaran, hingga implementasi yang tepat di lapangan," sebutnya.
Billy menilai, menjaga kesehatan mental siswa bukan hanya upaya untuk mencegah kekerasan, melainkan juga investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas generasi mendatang.
"Anak-anak kita membutuhkan ruang yang aman, pendampingan profesional, dan kebijakan yang benar-benar berpihak pada mereka. Tanpa tiga hal tersebut, risiko terjadinya ledakan emosi dan konflik ekstrem akan selalu mengancam," pungkasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti


