Soroti Pasangan Adhitia Yudhistira dan Ngatiyana, Pengamat Politik Unjani Prediksi Bakal ada Tiga Poros Bapaslon Wali dan Wakil Wali Kota Cimahi
Dipasangkannya Ngatiyana dan Adhitia Yudhistira sebagai bakal pasangan calon Wali dan Wakil Wali Kota Cimahi pada Pilkada serentak 2024 menjadi poros awal persaingan perebutan kursi kepala daerah pada 27 November mendatang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Dipasangkannya Ngatiyana dan Adhitia Yudhistira sebagai bakal pasangan calon Wali dan Wakil Wali Kota Cimahi pada Pilkada serentak 2024 menjadi poros awal persaingan perebutan kursi kepala daerah pada 27 November mendatang.
Hal ini pun menjadi sorotan sejumlah pihak, termasuk pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi, Arlan Siddha.
Menurutnya, munculnya bapaslon calon Wali dan Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira dan Ngatiyana diibaratkan telur yang tiga perempatnya sudah matang. Artinya, tinggal menentukan partai pengusung.
"Apakah pak Ngatiyana dari Golkar kemudian Adhitia dipastikan dari Gerindra, menurut saya sudah selesai," kata Arlan, Kamis 18 Juli 2024.
Namun, sambung Arlan, terkait siapa yang bakal menjadi Cimahi 1 atau Cimahi 2 diantara keduanya, dirinya meyakini Ngatiyana bakal menjadi C1 dan Adhitia Yudhistira sebagai C2.
Menurutnya, secara emosional Adhitia dan Ngatiyana sering berkomunikasi terlihat dari ulang tahunnya Ngatiyana, Adhitia hadir dan lain sebagainya.
"Ini menandakan keduanya chemistry-nya sudah dapat. Tapi kalau saya meyakini pak Ngatiyana di C1 dan pak Adhit di C2 dan ini menarik," tuturnya.
"Pak Ngatiyana mantan walikota cukup familiar dan Adhitia anak muda sehingga strateginya hampir sama dengan Pilpres," ucapnya.
Tak hanya itu, Arlan memprediksi bakal muncul tiga poros bapaslon Wali dan Wakil Wali Kota Cimahi pada Pilkada Cimahi nanti. Sebab, pergerakan dari sejumlah partai besar belum bermunculan, seperti PDI Perjuangan yang belum menentukan posisi dan PKS sudah menentukan posisi namun belum melakukan pendekatan dengan partai lain.
"PKS ini masih percaya diri dengan raihan kursi di dewan. PKS bisa saja maju sendiri tapi dalam sejarah di Kota Cimahi tidak ada parpol yang maju dalam konstalasi politik dan memang, selalu harus dilakukan koalisi," paparnya.
Arlan juga menilai, selain PKS, kader parpol di Cimahi hampir tidak ada yang bakal berkontestasi pada Pilkada Cimahi 2024. Menurutnya, Ngatiyana bukan kader partai politik yang tulen. Termasuk, Adhitia Yudhistira yang diusung parpol juga bukan.
Apalagi, seorang Dikdik Suratno Nugrahawan merupakan bacalon dari luar parpol lantaran dia merupakan seorang birokrat (Sekretaris Daerah) Kota Cimahi.
"Pak Dikdik ini salah satu bacalon dengan elektabilitas tinggi karena yang bersangkutan dikenal sebagai Sekda bukan sebagai calon Wali Kota," ujarnya.
"Akhirnya ini menjadi ketidakjelasan walaupun Pak Dikdik akan diusung NasDem, Demokrat dan PPP," ucapnya.
Selain itu, masyarakat juga belum mengetahui kepastian Dikdik akan mencalonkan atau tidak, lantaran hingga saat ini belum ada baliho yang secara lugas menyatakan dirinya akan maju di Pilkada.
"Konstelasi Pilkada akan berubah ketika pak Dikdik akan muncul sebagai Wali Kota tapi yang agak ribet adalah Pak Dikdik akan mencalonkan dengan siapa," ungkapnya.***
Editor : JakaPermana

