Tak Semua Orang Tua Memilih Homeschooling, Banyak yang Terpaksa Demi Keselamatan Anak
Metode homeschooling sering dianggap sebagai preferensi orang tua. Namun, penelitian terbaru di Inggris menunjukkan kenyataannya tidak selalu demikian.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Metode homeschooling sering dianggap sebagai pilihan gaya hidup atau preferensi orang tua. Namun, penelitian terbaru di Inggris menunjukkan kenyataannya tidak selalu demikian.
Mengutip dari The Conversation, bagi sebagian keluarga, keputusan mengeluarkan anak dari sekolah justru menjadi jalan terakhir setelah berbagai upaya mencari bantuan tidak membuahkan hasil.
Penelitian yang melibatkan 18 anak, 10 orang tua, dan 16 tenaga pendidikan di Inggris menemukan bahwa banyak keluarga memilih pendidikan di rumah karena anak mengalami perundungan, gangguan kesehatan mental, kebutuhan pendidikan khusus yang tidak terpenuhi, hingga kesulitan bersekolah.
Para orang tua mengaku telah berulang kali meminta sekolah menangani masalah tersebut, tetapi respons yang diterima dinilai tidak memadai.
Salah satu orang tua, Hazel, menceritakan anaknya menjadi korban perundungan bernuansa transfobia. Meski berkali-kali melapor, menurutnya sekolah tidak mengambil tindakan yang berarti.
Tak sedikit orang tua juga merasa tertekan karena harus memaksa anak berangkat ke sekolah setiap hari, sementara mereka tetap terancam denda akibat tingginya angka ketidakhadiran. Kondisi itu membuat mereka merasa disalahkan atas situasi yang sebenarnya berada di luar kendali.
Bagi sebagian keluarga, bertahan di sekolah justru dinilai lebih berisiko dibanding belajar di rumah.
Seorang ibu bernama Gemma mengaku akhirnya memutuskan homeschooling setelah melihat kondisi mental putranya terus memburuk akibat perundungan yang dialami sejak sekolah dasar. Ia mengatakan keputusan tersebut bukan sesuatu yang telah direncanakan, melainkan diambil ketika situasi keluarga sudah tidak lagi sanggup ditanggung.
Meski demikian, homeschooling juga bukan pilihan yang mudah. Banyak orang tua khawatir kehilangan penghasilan karena harus mendampingi anak belajar di rumah. Mereka juga tidak lagi mendapat berbagai fasilitas yang sebelumnya tersedia di sekolah, seperti makan siang gratis maupun dukungan pendidikan.
Namun, kekhawatiran tersebut dianggap lebih kecil dibanding risiko jika anak tetap bertahan di lingkungan sekolah yang dinilai tidak lagi aman bagi kesehatan mentalnya.
Peneliti menilai temuan ini menunjukkan bahwa homeschooling tidak selalu lahir dari pilihan bebas orang tua, melainkan karena mereka merasa tidak memiliki alternatif lain.
Karena itu, penggunaan istilah "elective home education" atau pendidikan rumah atas pilihan sendiri dinilai kurang menggambarkan kondisi yang sebenarnya dialami sebagian keluarga.
Peneliti menekankan bahwa perhatian seharusnya tidak hanya tertuju pada keputusan orang tua mengeluarkan anak dari sekolah, tetapi juga pada berbagai persoalan di lingkungan pendidikan yang mendorong mereka mengambil langkah tersebut. Dengan begitu, kebutuhan anak dan keluarga dapat ditangani sebelum homeschooling menjadi satu-satunya jalan keluar.
Editor : Doni Ramdhani


