Tanpa Deru, Bandung Menjemput Angkot Baru

DARI Terminal Ledeng hingga Husein Sastranegara, angkot listrik mulai diuji. Bandung sedang mencari bentuk baru transportasi kota.

Tanpa Deru, Bandung Menjemput Angkot Baru
UJI COBA: Koperasi pemilik angkutan masyarakat (Kopamas) Kota Bandung mulai menguji coba satu unit angkot listrik trayek Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji.

Oleh: Yogo Triastopo

Pagi di Bandung mulai mengenal wajah baru angkutan kota (angkot). Sebuah angkot listrik perlahan menyusuri jalan, membawa penumpang sekaligus harapan tentang transportasi yang lebih hemat dan ramah lingkungan.

Koperasi Pemilik Angkutan Masyarakat (Kopamas) Kota Bandung mulai menguji coba satu unit angkot listrik buatan PT Mobil Anak Bangsa (MAB) di trayek Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji.

Uji coba itu bukan sekadar memperkenalkan wajah baru angkutan kota. Di balik kemudi dan perjalanan yang ditempuh, Kopamas sedang mengumpulkan data untuk menjawab satu pertanyaan: seberapa siap kendaraan listrik menjadi bagian dari keseharian transportasi Bandung?

Ketua Kopamas Kota Bandung Budi Kurnia mengatakan, pengujian dilakukan untuk melihat kemampuan kendaraan dalam kondisi operasional sekaligus mendengar tanggapan masyarakat sebagai pengguna.

“Uji coba ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, kami ingin mengukur durabilitas atau ketahanan kendaraan. Kedua, kami ingin menguji sekaligus melihat tanggapan masyarakat Kota Bandung terhadap penggunaan kendaraan listrik sebagai angkutan umum,” kata Budi, Rabu (19/8). 

Trayek tersebut dipilih bukan tanpa alasan. Jalurnya telah mengalami perubahan, dari sebelumnya Cibogo Atas-Andir menjadi Terminal Ledeng-Bandara Husein Sastranegara melalui Sukahaji.

Karakter jalan yang di sejumlah ruas relatif kecil dinilai sesuai dengan kemampuan kendaraan listrik MAB yang berukuran lebih ringkas dan mudah bermanuver.

“Untuk trayek Bandara Husein Sastranegara-Terminal Ledeng, kami memproyeksikan penggunaan kendaraan MAB karena karakteristik jalannya relatif kecil dan membutuhkan kendaraan yang mudah bermanuver,” ucapnya.

Dari Terminal Ledeng, angkot listrik itu melintasi Jalan Sersan Bajuri, Pinus Raya Pondok Hijau, Abadi, Pak Gatot Raya, Gegerkalong Hilir, Sukahaji, Ir Sutami, Cipedes Tengah.

Kemudian Jalan Sukagalih, Sukamulya, Dr Djunjunan, Sukawarna, LMU Suparmin, Kapten Tata Natanegara, Pajajaran hingga Terminal Husein Sastranegara.

Satu unit kendaraan menjadi langkah pertama. Tidak ada keputusan untuk langsung memenuhi jalan dengan armada listrik. Kopamas memilih menguji, mencatat, lalu menghitung.

Load factor, ketahanan kendaraan, pola perjalanan, kebutuhan pengisian daya hingga respons penumpang akan menjadi bagian dari evaluasi.

“Kami juga akan menghitung load factor dan berbagai indikator lainnya. Dari hasil tersebut, nantinya akan diketahui berapa kebutuhan armada, bagaimana tingkat keterisian penumpang dan berbagai kebutuhan operasional lainnya,” ujar Budi.

Dengan cara itu, rencana elektrifikasi angkot tidak dibangun dari asumsi. Jalanan Bandung akan menjadi ruang pembuktian.

“Jadi, uji coba ini memang lebih diarahkan untuk mendapatkan data sebelum kendaraan digunakan secara penuh,” jelasnya.

Di balik gagasan angkutan yang lebih bersih, ada hitungan yang sangat sederhana: berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap hari?

Untuk angkot berbahan bakar bensin, pengemudi dengan jarak tempuh sekitar 180 hingga 200 kilometer per hari membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp150.000-Rp170.000.

Sementara kendaraan listrik yang diuji menggunakan baterai sekitar 50 kWh. Dengan tarif listrik sekitar Rp1.600-Rp1.700 per kWh, biaya pengisian disebut berada di bawah Rp50.000.

“Dari biaya operasional, kami bisa melakukan penghematan sampai sekitar 70 persen,” ujar Budi.

Dia memperkirakan konsumsi kendaraan sekitar 1 kWh untuk jarak lima kilometer. Secara teoritis, baterai 50 kWh mampu membawa kendaraan menempuh sekitar 250 kilometer. Namun, angka itu bukan satu-satunya hitungan.

Perwakilan PT MAB Abi Mantrono menyebut kendaraan tersebut bahkan mampu mencapai jarak sekitar 300 kilometer dalam sekali pengisian, bergantung pada pola dan kondisi pemakaian.

“Dengan baterai 50 kWh, jarak tempuhnya bisa mencapai sekitar 300 kilometer. Tetapi tentu tergantung pada pola dan kondisi pemakaian,” kata Abi.

Dengan pola penggunaan tertentu, kendaraan disebut dapat beroperasi sekitar dua hari sebelum kembali mengisi baterai.

Pengisian dayanya pun telah didukung teknologi fast charging. Dari kondisi sekitar 20 persen hingga penuh, baterai membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.

“Untuk fast charging, dari kondisi sekitar 20 persen hingga 100 persen, waktu pengisian sekitar satu jam,” ucapnya.

Secara fisik, kendaraan itu memiliki panjang sekitar 4,5 meter, lebar 1,68 meter, dan wheelbase sekitar 3,5 meter. Bobotnya sekitar 2,6 ton dengan kapasitas hingga 12 penumpang.

Ada AC untuk menjaga kenyamanan penumpang dan sistem pengereman ABS untuk menunjang keselamatan. Kecepatan maksimalnya disebut mencapai sekitar 120 kilometer per jam, meski angka itu tentu bukan target ketika kendaraan membawa penumpang di jalan kota.

Pada ruas yang relatif kecil, kecepatan operasional diperkirakan sekitar 30-40 kilometer per jam. Kemampuan bermanuver menjadi salah satu keunggulan yang ditawarkan. 

Abi mengatakan kendaraan tersebut sebelumnya telah diuji di Jakarta, termasuk kawasan Tanjung Priok yang memiliki sejumlah jalan sempit.

“Kendaraan ini bisa masuk ke jalan-jalan, atau gang yang relatif sempit dan dapat bermanuver dengan baik,” ujarnya.

Tanjakan pun bukan dianggap sebagai lawan. Karakter tenaga motor listrik yang tersedia secara instan membuat kendaraan tetap mampu menanjak.

“Ketika kendaraan berada di tanjakan, tenaga dapat langsung tersedia. Jadi, kendaraan tetap dapat melaju di jalan menanjak tanpa masalah berarti,” tegasnya.

Bagi Kopamas, perubahan menuju angkutan listrik bukan hanya tentang mengganti mesin bensin dengan baterai.

Ada kebiasaan yang perlu berubah. Ada penumpang yang perlu diyakinkan. Ada pengemudi dan pengelola yang harus beradaptasi. Ada pula fasilitas yang harus mengikuti kebutuhan zaman.

Wi-Fi dan sistem pembayaran dengan tapping card masih dalam tahap persiapan. Kopamas juga membuka kemungkinan menambah fasilitas berdasarkan masukan penumpang.

“Kami membutuhkan masukan dari para pengguna mengenai fasilitas apa saja yang mereka butuhkan. Prinsipnya, kami ingin masyarakat merasa nyaman menggunakan angkutan umum ini,” tutur Budi.

Dari sisi lingkungan, kendaraan listrik menawarkan satu perubahan yang mudah dikenali: tidak ada gas buang langsung dari knalpot.

Kopamas melihat hal itu sebagai salah satu peluang untuk mendorong angkutan umum yang lebih ramah lingkungan di Bandung.

Budi menyadari listrik yang digunakan tetap bisa berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil. Namun, Jawa Barat juga memiliki sumber energi dari pembangkit tenaga air dan panas bumi.

“Kita memiliki sumber energi yang berasal dari pembangkit tenaga air, dan panas bumi. Untuk pembangkit tenaga air, kita memiliki Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Kemudian untuk panas bumi ada Kamojang, Darajat dan Wayang Windu,” ucapnya.

Jika hasil uji coba menunjukkan kendaraan mampu bertahan dalam ritme angkutan kota, Kopamas memperkirakan kebutuhan awal di trayek tersebut berada di kisaran 15-20 unit.

Armada itu nantinya diproyeksikan memiliki headway sekitar 10-15 menit. Namun, angka tersebut masih menunggu hasil evaluasi.

Sebab, Bandung tidak membutuhkan sekadar angkot baru. Kota ini membutuhkan angkutan yang mampu menjawab persoalan biaya, kenyamanan, mobilitas, dan lingkungan sekaligus.

Uji coba di satu trayek menjadi langkah kecil menuju pertanyaan yang lebih besar: apakah wajah angkutan kota Bandung kelak akan semakin senyap, bersih, dan hemat?

Untuk sementara, kendaraan itu masih harus menempuh jalan-jalan Bandung, berhenti di halte dan tepian jalan, membawa penumpang, mendaki tanjakan, berbelok di ruas sempit, dan mengumpulkan cerita dari perjalanan hari ke hari.

Dari sanalah data akan berbicara. Dari data itu pula, masa depan angkot listrik Bandung akan ditentukan. Kopamas berharap langkah tersebut mendapat dukungan pemerintah, anggota koperasi, dan masyarakat.

“Harapan saya tentu ada dukungan dari pemerintah, khususnya dalam bentuk support terhadap program ini. Selain itu, kami juga membutuhkan dukungan dari para anggota dan masyarakat Kota Bandung,” harap Budi. (gin)


Editor : Inilahkoran