Teras Cihampelas dan Akhir Sebuah Ambisi Kota
Teras Cihampelas pernah dipuja sebagai ikon Bandung. Kini, skywalk itu menunggu pembongkaran. Simak perjalanan lengkapnya dari awal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Teras Cihampelas lahir dari sebuah gagasan besar untuk menata ulang wajah Jalan Cihampelas, salah satu kawasan belanja paling ikonik di Kota Bandung.
Sebelum Skywalk dibangun, kawasan ini identik dengan kemacetan, trotoar sempit, serta pedagang kaki lima yang berjualan di bahu jalan hingga kerap mengganggu pejalan kaki dan arus lalu lintas.
Gagasan pembangunan Teras Cihampelas dicetuskan oleh Ridwan Kamil saat masih menjabat sebagai Wali Kota Bandung.
Saat itu, dia ingin menghapus kesan kumuh sekaligus menghadirkan ruang publik baru yang lebih tertata, ramah pejalan kaki, dan berdaya tarik wisata. Skywalk dipilih sebagai solusi untuk memindahkan aktivitas pejalan kaki dan pedagang ke ruang di atas jalan.
Teras Cihampelas Telan Anggaran Rp48 Miliar
Pembangunan Teras Cihampelas rampung pada Januari 2017 dengan anggaran sekitar Rp48 miliar. Skywalk ini memiliki panjang kurang lebih 450 meter, lebar 9 meter, dan berada di ketinggian sekitar 4,6 meter dari permukaan jalan.
Konstruksinya menggunakan rangka baja, lantai beton, serta perpaduan material granit dan kayu pada alas teras.
Tak hanya difungsikan sebagai jalur pedestrian, Teras Cihampelas juga dirancang sebagai ruang publik dan ruang komersial. Sebanyak 192 pedagang kaki lima yang sebelumnya berjualan di bawah dipindahkan ke kios-kios di atas Skywalk.
Para pedagang tidak dikenai biaya sewa kios, hanya diminta iuran untuk kebersihan dan keamanan, dengan jam operasional dibatasi hingga pukul 22.00 WIB.
Konsep 4 Zona Tematik Teras Cihampelas
Secara konsep, Teras Cihampelas dibagi menjadi empat zona tematik. Zona A difungsikan sebagai area catwalk bagi pegiat dan kreator fashion, Zona B untuk penggemar permainan remote control (RC), Zona C menghadirkan coworking space serta diorama sejarah Cihampelas, dan Zona D disiapkan sebagai arena drone race.
Sepanjang jalurnya, pepohonan rindang dirancang untuk menciptakan suasana hijau dan sejuk di tengah padatnya aktivitas kota.
Pada salah satu ujungnya, Teras Cihampelas dirancang sebagai spot foto dengan latar Flyover Pasupati, salah satu landmark Kota Bandung.
Keberadaan lift juga membuat Skywalk ini dapat diakses oleh penyandang disabilitas. Tak heran, pada masa awal peresmian, Teras Cihampelas langsung menjadi magnet wisata dan ikon baru Kota Bandung.
Namun, kejayaan itu perlahan memudar. Sekitar dua tahun setelah beroperasi, pamor Teras Cihampelas mulai menurun. Aktivitas pengunjung berkurang, kios-kios mulai sepi, dan daya tarik kawasan tidak lagi sekuat saat awal dibuka.
Dihajar Pandemi Covid-19
Kondisi tersebut semakin memburuk ketika pandemi Covid-19 melanda. Banyak pedagang meninggalkan kiosnya, dan Teras Cihampelas terlihat semakin tidak terawat.
Meski sempat mangkrak, Pemerintah Kota Bandung berupaya menghidupkan kembali kawasan tersebut melalui penyelesaian Teras Cihampelas tahap dua.
Proyek lanjutan ini diresmikan oleh Pelaksana Harian Wali Kota Bandung, Ema Sumarna, pada 19 September 2023. Dengan tambahan pembangunan tersebut, total anggaran Teras Cihampelas mencapai sekitar Rp71 miliar.
Sayangnya, revitalisasi tersebut belum mampu mengembalikan kejayaan lama. Aktivitas di atas Skywalk tetap minim, dan banyak kios kembali ditinggalkan pedagang. Evaluasi menyeluruh pun dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung.
Teras Cihampelas Timbulkan Berbagai Persoalan
Hasil evaluasi itu berujung pada keputusan besar. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, memastikan rencana pembongkaran Teras Cihampelas akan segera direalisasikan.
Menurut Farhan, bangunan tersebut tidak lagi memberikan manfaat signifikan bagi publik dan justru menimbulkan berbagai persoalan.
“Jadi, dalam sebuah dialog saya dengan Pak Gubernur dan Pemprov memang akan dibongkar. Tapi izin pembongkarannya dari kita. Kami sedang mengupayakan izin pembongkaran tersebut,” kata Farhan, Selasa, 13 Januari 2026.
Farhan menyebut, selain minim manfaat, Teras Cihampelas juga bermasalah secara administratif. Bangunan tersebut tidak mengantongi perizinan lengkap seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) yang seharusnya menjadi syarat utama sebuah infrastruktur publik.
Dia menegaskan, sebelum masuk ke tahap teknis pembongkaran, Pemkot Bandung masih memprioritaskan penyelesaian aspek perizinan. “Anggarannya sendiri kita belum tahu. Saat ini kita fokus ke izin pembongkaran dulu,” ucapnya.
Sambil menunggu proses perizinan rampung, Pemkot Bandung mulai melakukan penataan kawasan. Akses ke bagian atas Teras Cihampelas ditutup, sementara area pedestrian di bawah Skywalk dibersihkan dan dilengkapi penerangan.
“Kalau sekarang datang ke sana, yang pasti bagian atas sudah ditutup. Pedestrian beserta tiang sudah kita bersihkan, dan lampu pedestrian sudah menyala semua. Jadi atas dan bawah aman,” ujar Farhan.
Pemprov Jabar Bantu Biaya Pembongkaran
Seiring rencana pembongkaran, pemerintah kota juga menyiapkan relokasi bagi pelaku UMKM. Para pedagang akan ditempatkan di taman bawah Jembatan Layang Pasopati yang direncanakan menjadi kawasan wisata kuliner baru.
“PKL UMKM ditempatkan di taman bawah Jembatan Layang Pasopati. Nah, di situ akan kita jadikan salah satu tempat wisata kuliner,” kata Farhan.
Dalam rencana pembongkaran nanti, seluruh struktur Teras Cihampelas, termasuk 69 tiang penyangga, akan dibongkar secara menyeluruh. Waktu pelaksanaannya masih menunggu rampungnya proses perizinan dan kajian lanjutan.
Dari sisi pemerintah provinsi, Kepala Bappeda Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan kesiapan Pemprov Jabar untuk membantu pembiayaan pembongkaran, dengan syarat seluruh izin telah diselesaikan.
“Kalau memang Bandung belum siap, nanti kita siapkan oleh provinsi untuk pembongkarannya. Tapi catatannya, izinnya selesain dulu,” ujar Dedi.
Menurutnya, pembongkaran aset daerah harus melalui proses penghapusan aset yang diaudit agar tidak menimbulkan persoalan hukum di kemudian hari. “Jangan sampai nanti seperti kejadian pas ngebangun tidak ada izinnya, sekarang pas ngebongkar tidak ada izinnya,” katanya.
Teras Cihampelas kini berada di pengujung perjalanannya. Dari sebuah inovasi tata kota yang sempat dipuja dan menjadi ikon wisata, hingga akhirnya dinilai tak lagi relevan. (yogo triastopo/yuliantono/berbagai sumber)
Editor : Gin gin T Ginulur


