Tersangka Pengelola TPA Ilegal Limo Diserahkan ke Kejari Kota Depok

Kementerian Lingkungan Hidup melalui Deputi Bidang Penegakan Hukum (Gakkum) menyerahkan tersangka dan barang bukti perkara pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ilegal Limo ke Kejaksaan Negeri  Kota Depok.

Tersangka Pengelola TPA Ilegal Limo Diserahkan ke Kejari Kota Depok
Kementerian Lingkungan Hidup melalui Deputi Bidang Penegakan Hukum (Gakkum) menyerahkan tersangka dan barang bukti perkara pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ilegal Limo ke Kejaksaan Negeri  Kota Depok.

INILAHKORAN, Bogor - Kementerian Lingkungan Hidup melalui Deputi Bidang Penegakan Hukum (Gakkum) menyerahkan tersangka dan barang bukti perkara pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) ilegal Limo ke Kejaksaan Negeri  Kota Depok.

Tersangka dalam kasus ini adalah Jayadi, pengelola TPA Ilegal Limo, Kota Depok yang mengelola sampah tanpa izin. 

Deputi Bidang Gakkum KLH Irjen (Pol) Rizal Irawan mengatakan bahwa proses hukum terhadap kasus pengelolaan TPA ilegal ini telah berjalan sesuai prosedur yang berlaku.

Menurut Irjen (Pol) Rizal Irawan, aktivitas pembuangan sampah ilegal di TPA ilegal Limo, Kota Depok telah berlangsung sejak 2010 dan menimbulkan berbagai dampak lingkungan serius, termasuk kebakaran dan longsor.

"Pada tahun 2014-2015, kebakaran dan longsor beberapa kali terjadi, hingga pada September 2014 tumpukan sampah mencapai bibir Kali Pesanggrahan hingga berpotensi merusak lingkungan hidup," kata Irjen (Pol) Rizal Irawan kepada wartawan, Kamis, 27 Februari 2025.

Alumni Akpol Tahun 1995 ini menuturkan, kebakaran besar kembali terjadi pada 18 September 2015 di TPA ilegal Limo Lpta Depok, hingga  menyebabkan asap pekat yang menutupi Perumahan Panorama Bukit Cinere. 

"Akibat kebakaran tersebut, Pemkot Depok mengambil tindakan pemadaman, pembersihan, dan penutupan TPA ilegal tersebut pada 4 Oktober 2015," tuturnya.

Namun, kasus kebakaran terus berulang sepanjang 2021 hingga 2023, termasuk beberapa kali kebakaran besar pada 2023.

Bahkan, pada 24 Februari dan 17 Mei 2024, longsoran sampah kembali terjadi hingga menyebabkan pencemaran sungai dengan bau menyengat dan asap tebal dari pembakaran yang berlangsung setiap malam.

"Menindaklanjuti permasalahan tersebut, KLH mulai menangani kasus ini secara hukum. Pada Juni 2024, tim KLH melakukan verifikasi lapangan, diikuti dengan penerbitan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) pada 17 September 2024," tegasnya.

Ia melanjutkan Pada 9 Oktober 2024, Pemkot Depok menutup akses masuk ke TPA ilegal Limo dengan pagar beton dan memasang plang larangan. 

Namun, kebakaran besar kembali terjadi pada 10 Oktober 2024, yang membuat pagar beton harus dijebol untuk memberi akses kepada petugas pemadam kebakaran.

Setelah serangkaian penyelidikan, KLH akhirnya menyegel TPA Limo pada November 2024. Tak lama setelah itu, Drs. Jayadi ditetapkan sebagai tersangka pada 30 Oktober 2024 atas dugaan pelanggaran Pasal 98 Ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

"Setelah ditetapkan sebagai tersangka, pada 20 Oktober 2024 Drs. Jayadi mulai ditahan dan diperiksa," ucap Mantan Deputi IV Badan Intelijen Negara (BIN) yang membidangi urusan ekonomi tersebut.

Pada November 2024, berkas perkara tahap I diserahkan ke Kejari Depok. Kemudian, antara November 2024 hingga Februari 2025, penyidik KLH melengkapi petunjuk dari jaksa (P-19). Hingga akhirnya, pada 19 Februari 2025, Kejaksaan menetapkan status tersangka secara resmi.

Selanjutnya, pada 25 Februari 2025, berkas perkara dinyatakan lengkap (P-21), dan pada 27 Februari 2025, tahap dua proses hukum berlangsung dengan penyerahan tersangka serta barang bukti ke Kejari Depok.

"Dengan penyerahan ini, kasus pengelolaan sampah ilegal di Limo akan segera memasuki tahap persidangan," tukasnya Irjen (Pol) Rizal Irawan.***


Editor : JakaPermana