Terus Keluarkan Bukti dan Kesaksian para Korban Bullying, Dispatch Kini Tuduh Kim Hieora Berbohong

Dispatch menuduh bahwa Kim Hieora berbohong setelah sang aktris terus mengelak bahwa dia bukan pelaku bullying meski sudah diungkap oleh 12 korban.

Terus Keluarkan Bukti dan Kesaksian para Korban Bullying, Dispatch Kini Tuduh Kim Hieora Berbohong
Dispatch sebut Kim Hioera berbohong meski telah dirilis berbagai bukti tindak bullying dirinya.

INILAHKORAN.COM, Bandung - Aktris Kim Hieora saat ini mungkin dalam keadaan ketar-ketir setelah Dispatch ungkap kasus bullying dirinya di tengah karirnya yang tengah naik daun.

Saat ini, media Korea Dispatch bermaksud untuk terus mengungkap lebih banyak kesaksian dari informan (korban) dalam skandal bullying di sekolah yang dialami Kim Hieora.

Pada 9 September 2023, kemarin, Dispatch mengeluarkan artikel untuk memberikan lebih banyak bukti setelah Kim Hieora membantah tuduhan bullying di sekolah yang pertama.

Sebelumnya, Kim Hieora dan agensinya membantah dugaan kekerasan di sekolah yang diajukan oleh Dispatch.

“Saya tidak dengan jahat, terus-menerus, atau sengaja menyiksa orang lemah, seperti yang digambarkan dalam artikel tersebut,” ungkap Kim Hieora.

Dispatch mengatakan bahwa pihaknya mendengae cerita dari 11 informan yang menjadi korban mulai dari A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K.

Dispatch juga mengungkapkan termasuk kenalan Y, yang total informannya ada 12 orang.

“Laporan pertama berisi pengakuan A, B, C dan D tentang penyerangan, caci-maki, pemerasan uang, dll," kata Dispatch

"Oleh karena itu, Dispatch langsung mengunjungi berbagai lokasi di Wonju, seperti karaoke, arcade, dan gang-gang, tempat mereka mengaku dipukul dan juga melakukan wawancara," lanjutnya. 

"Namun, kami tidak memasukkan informasi tersebut ke dalam laporan karena sulit untuk memverifikasi klaim para korban,” tambahnya.

Dispatch menekankan, “kami hanya membahas fakta bahwa Kim Hieora mengaku sebagai anggota Big Sangji. Dengan kata lain, kami lebih mencerminkan argumen Kim Hieora.”

“Namun demikian, Kim Hieora dan agensi mereka membantah seluruh laporan tersebut,” sambungnya.

Dispatch menyadari bahayanya membuat laporan kekerasan di sekolah dan memahami betapa berisikonya mempublikasikan klaim sepihak korban karena berpotensi mengubah 'pengungkapan' menjadi 'serangan'.

Menurut Dispatch, mereka mendekati masalah kekerasan sekolah Kim Hieora dengan hati-hati dan bahkan mencoba menghentikan informan A memposting pengungkapan anonim di komunitas online, seperti Nate Pann. 

Mereka pun bertemu dengan Kim Hieora untuk bertukar cerita dan mengatur pertemuan bagi kedua belah pihak.

Oleh karena itu, Dispatch menegaskan bahwa laporan mereka mengenai tindakan kekerasan di sekolah Big Sangji adalah benar dan menambahkan cerita yang tidak dimasukkan dalam artikel pertama.

Secara khusus, mereka bertanya kepada Kim Hieora apakah benar X memeras uang dari orang lain untuk membeli hadiah ulang tahun untuknya, Kim Hieora menjawab, “Ya, tapi aku memberi mereka hadiah sebagai balasannya.” 

Faktanya, media sebelumnya mengambil bagian ini dari pemberitaan pertama karena mencoba merefleksikan pernyataan Kim Hieora yang tidak memerintahkan X untuk melakukannya.

Mengklaim bahwa tanggapan Kim Hieora dan agensinya melewati batas, Dispatch memutuskan bahwa mereka akan mengungkapkan kesaksian informan E, F, G, dan H, yang benar-benar mengalami kekerasan atau menyaksikan insiden tersebut, dalam laporan tindak lanjut.***


Editor : Irma Nurfajri