TPS3R Rancasari Ungkap Masalah di Balik Pengoperasian Kembali Insinerator
Para pekerja TPS3R Rancasari mengeluhkan beberapa persolaan yang terjadi saat mesin insenerator kembali difungsikan oleh Pemkot
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di balik kebijakan Pemkot Bandung yang kembali mengaktifkan mesin insinerator untuk penanganan sampah, muncul sejumlah catatan dari para pelaku pengelolaan sampah di lapangan.
Mulai dari persoalan kapasitas mesin, kualitas operator hingga kesejahteraan pekerja menjadi perhatian yang dinilai tak bisa diabaikan.
Pengelola sampah TPS3R Anugrah Siringgit, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Ujang Siringgit menyambut, positif langkah Pemkot Bandung mengoperasikan kembali mesin insinerator. Kebijakan tersebut, menjadi harapan baru di tengah meningkatnya volume sampah di Kota Bandung.
“Saya merasa senang dan mengucapkan selamat kepada bapak wali kota, karena telah mengaktifkan kembali mesin insinerator,” kata Ujang Siringgit, Kamis (14/5/2026).
Namun di balik dukungannya, dia menilai pengoperasian insinerator harus dibarengi dengan penambahan fasilitas. Pihaknya menyebut, satu mesin saja tidak cukup untuk menangani volume sampah yang terus meningkat setiap hari.
Menurutnya, setiap lokasi pengolahan idealnya memiliki minimal dua unit mesin. Hal itu penting sebagai cadangan ketika salah satu mesin mengalami kerusakan atau gangguan teknis.
“Saya pribadi menginginkan, apabila pemasangan mesin insinerator ditambah di setiap lokasi minimal dua mesin. Jadi ketika ada trouble pada satu mesin, pengolahan sampah masih bisa diatasi,” ucapnya.
Ujang mencontohkan kondisi di Motah 63 Rancasari yang saat ini melayani pengolahan sampah dari 14 RW. Dalam sehari, volume sampah yang masuk mencapai 10 hingga 11 ton. Jumlah tersebut, dinilai sudah melebihi kapasitas ideal pengolahan yang dimiliki fasilitas tersebut.
“Motah 63 Rancasari mampu mengolah sekitar 10 sampai 11 ton per hari dari 14 RW. Itu sudah over kapasitas,” ujar dia.
Karena itu, pihaknya berharap Pemkot Bandung dapat menambah satu unit mesin insinerator lagi agar pelayanan pengolahan sampah tetap berjalan optimal. “Dengan hormat kepada pak wali, kami meminta tambahan satu mesin lagi,” ucapnya.
Selain persoalan kapasitas mesin, Ujang juga menyoroti kondisi para pekerja pengolah sampah. Hingga saat ini, banyak operator dan pekerja lapangan yang masih bekerja dengan sistem insentif meski harus menangani sampah dalam jumlah besar setiap hari.
Dia menilai, kesejahteraan pekerja menjadi faktor penting yang harus diperhatikan pemerintah apabila ingin sistem pengolahan sampah berjalan maksimal dan berkelanjutan. “Dengan beban kerja berton-ton per hari, para pekerja masih menggunakan sistem insentif,” ujar dia.
Di sisi lain, pihaknya menegaskan keberhasilan pengoperasian mesin insinerator tidak hanya bergantung pada teknologi. Tetapi juga kualitas operator yang memegang peran utama dalam menentukan aman atau tidaknya emisi hasil pembakaran.
“Kunci mesin insinerator itu ada di operatornya. Kunci pengendalian emisi juga ada di operator, terutama dalam cara memilah sampah,” jelasnya.
Dia mengatakan, sampah B3 atau bahan berbahaya dan beracun menjadi penyebab utama munculnya emisi berbahaya apabila ikut terbakar di dalam mesin insinerator. “Yang menjadi sumber emisi itu sampah B3,” tandas dia.
Editor : Ahmad Sayuti

