Triwulan I 2022, Pertumbuhan Ekonomi Jabar Bak Ketiban Durian Runtuh

Pada Triwulan I 2022 pertumbuhan ekonomi Jabar melampaui angka nasional. Tercatat sebesar 5,61% menopang pertumbuhan nasional sebesar 5,01%.

Triwulan I 2022, Pertumbuhan Ekonomi Jabar Bak Ketiban Durian Runtuh
Data membuktikan, pada Triwulan I 2022 pertumbuhan ekonomi Jabar melampaui angka nasional. Tercatat sebesar 5,61% (yoy), kontribusinya menopang ekonomi nasional yang tumbuh 5,01%.

INILAHKORAN, Bandung - Data membuktikan, pada Triwulan I 2022 pertumbuhan ekonomi Jabar melampaui angka nasional. Tercatat sebesar 5,61% (yoy), kontribusinya menopang pertumbuhan nasional yang tumbuh 5,01%.

“Imbas dari adanya pelonggaran mobilitas warga pascapandemi, (pada Triwulan I 2022) Jabar seperti ketiban durian runtuh,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Jabar Herawanto di Bogor, akhir pekan lalu.

Peribahasa tersebut diakuinya sejalan dengan segala indikator pertumbuhan ekonomi Jabar. Pada periode itu, indeksnya positif semua. Terlebih, Tatar Priangan ini didukung industri pengolahan yang berkontribusi sebesar 42% dan kontribusi ekspor sebesar 29% terhadap nasional.

Baca Juga: Persib vs Persikabo 1973 Akhirnya Menemui Kepastian Main, Ini Jadwal Tandingnya

“Secara spasial, pada Triwulan I 2022 ini pertumbuhan ekonomi nasional ditopang pertumbuhan ekonomi Jabar yang kontribusinya mencapai 58%,” ucapnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jabar pada periode tersebut tumbuh 5,61% (yoy). Angka itu pun jauh melampaui lima provinsi lainnya di Pulau Jawa. Rinciannya, ekonomi Banten tumbuh 4,97%, Jakarta 4,63%, Jateng 5,16%, Yogyakarta 2,91%, dan Jatim 5,20%.

“Kita meyakini, prospek pemulihan ekonomi dapat terus berlanjut. Untuk itu, perlu dijaga kinerja ekspor dan investasi di tengah tekanan global. Selain itu, harus ada pemanfaatan potensi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi Jabar, dan percepatan realisasi fiskal pemerintahan daerah,” sebutnya.

Baca Juga: Ridwan Kamil Tetap Sewakan Mobil Klasik Milik Eril, Hasilnya 100 Persen untuk Kemanusiaan

Meski demikian, Herawanto menyebutkan guna mengantisipasi beberapa tantangan perekonomian ke depan pihaknya tetap memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan pemerintahan daerah dan lembaga atau stakeholders terkait, termasuk media.

Sebab, media menjadi mitra penting dalam menyampaikan berbagai informasi sekaligus memberikan gambaran mengenai kondisi dan tantangan ekonomi ke depan untuk menjaga optimisme dan meningkatkan momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mengantisipasi potensi tekanan inflasi yang dipengaruhi oleh stagflasi global, yaitu stagnasi dalam perekonomian diikuti inflasi global yang semakin tinggi.

Bersama dengan Kepala BI Cirebon Hestu Wibowo, Kepala BI Tasikmalaya Darjanam dan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Bandung Martha Fani Cahyandito mereka menyampaikan beberapa rekomendasi kebijakan yang diperlukan dalam rangka menjaga dan meningkatkan momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus mengantisipasi potensi tekanan inflasi.

Baca Juga: JPU Masih Susun Dakwaan, Doni Salmanan Belum Jalani Sidang Kasus Penipuan

Beberapa rekomendasi kebijakan yang dapat dilakukan adalah pertama melalui langkah koordinatif merespon potensi stagflasi dunia dan tekanan inflasi yang tinggi, melalui penguatan strategi kebijakan 4K yakni ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi efektif, plus Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terutama dalam menjaga kepastian ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan yang didukung penerapan teknologi serta ketersediaan sistem informasi yang memadai.

Untuk menjaga perbaikan kinerja ekspor dan investasi di tengah tekanan stagflasi global, erbagai dukungan di antaranya melalui pemberian kemudahan dan insentif ekspor terutama pada komoditas potensial diluar yang ada seperti perikanan dan maritim serta pertanian di Jabar Selatan yang perlu didukung dengan konektivitas yang baik.

Baca Juga: Tembus Angka 380, Ini Kelurahan di Cimahi dengan Kasus DBD Terbanyak

Saat ini, Jabar masih mencatatkan kinerja ekspor yang positif dan semakin membaik dengan pertumbuhan sebesar 17,73% pada posisi Mei 2022. Kondisi tersebut juga didukung indikator prompt manufacturing index (PMI) yang tercatat sebesar 59,9 yang mencerminkan geliat pelaku industri manufaktur pada fase ekspansif.

Hal ini juga memberikan nafas bagi bergeraknya sektor perdagangan yang ditunjukkan data Gaikindo dengan adanya peningkatan mobil dalam negeri yang tumbuh 5,03% (yoy) diiringi terbukanya pasar ekspor baru seperti Australia dan Timur Tengah. (dnr)


Editor : inilahkoran