Tugas Kemenag untuk Puluhan Khatib Jumat di Bogor, Selipkan Pesan Lingkungan dan Ekoteologi

Kemenang Bogor menyiapkan para khatib Jumat untuk menyelipkan pesan lingkungan dalam khutbah yang disampaikan.

Tugas Kemenag untuk Puluhan Khatib Jumat di Bogor, Selipkan Pesan Lingkungan dan Ekoteologi
Kemenang Bogor menyiapkan para khatib Jumat untuk menyelipkan pesan lingkungan dalam khutbah yang disampaikan. Langkah ini selaras dengan arahan Menteri Agama perihal ekoteologi.

INILAHKORAN.ID- Puluhan khatib dan dai di Kota Bogor telah mendapat mandat khusus dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat H Dede Supriatna. 

Rupanya, Kemenang Bogor menyiapkan para khatib Jumat untuk menyelipkan pesan lingkungan dalam khutbah yang disampaikan. Langkah ini selaras dengan arahan Menteri Agama perihal ekoteologi.

"Ya, telah dilakukan pelatihan dai yang lebih fokus ke isu lingkungan hari ini. Untuk inisiatornya UPZ Al-Hurriyyah IPB menggandeng Kementerian Agama untuk menghimpun para dai dan daiah, wabilkhusus khatib, untuk memberikan pesan lingkungan kepada jemaah. Jemaah Jumat terutama, dan jemaah majelis-majelis taklim, untuk sadar terkait dengan pentingnya lingkungan," ungkap Dede, Rabu 24 Desember 2025.

Dede melanjutkan, arahan Menag terkait ekoteologi menitikberatkan pada hubungan harmonis sesama manusia, manusia dengan alam, juga alam dengan sang pencipta.

"Nah, buktinya hari ini, alhamdulillah, 50 dai dan para khatib dikumpulkan dan diberikan materi terkait dengan lingkungan. Dan ilmunya ada di IPB, materi-materinya, para pematerinya, subhanallah. Mereka akan memberikan materi terkait betapa pentingnya alam dan bumi supaya lestari dengan baik," jelasnya.

​Dede menegaskan, ini seiring juga dengan harapan pemerintah daerah, Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, untuk menanamkan sadar lingkungan kepada para peserta didik, termasuk mahasiswa. 

"Diajarkan juga menanam pohon untuk Kota Bogor yang lebih nyaman, Kota Bogor yang lebih lestari. Itu mungkin tentang kegiatan hari ini, mudah-mudahan berjalan dengan sukses," pungkasnya. 

Sebelumnya,  Menteri Agama Nasaruddin Umar mengingatkan pentingnya pendekatan ekoteologi, atau ilmu tentang hubungan antara agama dan alam atau lingkungan hidup, yakni dalam kebijakan lingkungan.

Menurut Menag, pendekatan ekoteologi diperlukan sebab bumi dan alam semesta merupakan ciptaan Tuhan yang bersifat sakral, serta tidak boleh diperlakukan sebagai objek eksploitasi tanpa batas.

“Alam bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah ilahi yang wajib dijaga keberlanjutannya. Kerusakan hutan, pencemaran air, dan konflik lahan bukanlah ‘biaya pembangunan’, tetapi tanda terganggunya relasi manusia dengan amanah Tuhan,” ujar Menag.

Lebih lanjut dia mengatakan merusak satu bagian bumi berarti mengguncang keseluruhan ekosistem, termasuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada alam.

Oleh sebab itu, dia kembali mengingatkan dengan mengatakan bahwa tobat ekologis tidak boleh berhenti pada retorika moral.

“Tobat ekologis harus menjadi paket kerja yang bisa diawasi publik, yakni mulai dari audit izin dan konsesi, pemulihan daerah aliran sungai, rehabilitasi hutan, pembenahan tata ruang berbasis risiko bencana, hingga penegakan hukum yang menyasar pelaku dan rantai keuntungan,” katanya.***


Editor : Bsafaat