Unpad Perkuat Kolaborasi Kesehatan: Riset Mengakar Manfaat Menyebar

RISET tak cukup berhenti di laboratorium. Kolaborasi menjadi kunci inovasi kesehatan.

Unpad Perkuat Kolaborasi Kesehatan: Riset Mengakar Manfaat Menyebar
SESI PANEL: Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Pemasaran Universitas Padjadjaran Prof. Rizky Abdulah dalam sesi panel diskusi bertajuk “The Future of Global Health: Innovation, Policy, and Partnership” yang dimoderatori Kepala Satuan Pengembangan Strategis dan Reputasi Universitas (SPSRU) Unpad Yudi Ahmad Faisal, Ph.D. (UNPAD.AC.ID)

Oleh : Yogo Triastopo

Inovasi kesehatan tidak semestinya berhenti sebagai temuan ilmiah atau sekadar memenuhi halaman publikasi jurnal. Lebih dari itu, hasil penelitian harus mampu menjawab persoalan kesehatan dan membawa perubahan nyata bagi kehidupan masyarakat.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “The Future of Global Health: Innovation, Policy, and Partnership” pada hari kedua QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre, Nusa Dua, Bali, Rabu (4/11). 

Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Pemasaran Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof. Rizky Abdulah menilai, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih, persoalan kesehatan global membutuhkan lebih dari sekadar terobosan teknologi dan penemuan ilmiah.

“Ketika membahas masa depan kesehatan global, kita sering kali berbicara tentang terobosan ilmiah berikutnya. Bagaimana inovasi tersebut benar-benar dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat? Inilah salah satu peran besar perguruan tinggi,” ujar Prof. Rizky.

Menurut dia, hasil riset membutuhkan ekosistem yang kuat agar bisa berkembang menjadi inovasi yang dapat diterapkan. Dukungan fasilitas, pendanaan, serta kemitraan dengan berbagai pihak menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Unpad, misalnya, mengembangkan fasilitas rumah sakit berkapasitas sekitar 1.000 tempat tidur dan pusat riset khusus tuberkulosis (TBC). Perguruan tinggi ini juga menjalin kolaborasi dengan Gates Foundation dalam pelaksanaan uji klinis vaksin TBC.

Langkah lainnya dilakukan melalui pembenahan mekanisme pendanaan riset internal. Sejak dua tahun terakhir, Unpad mengarahkan pendanaan penelitian agar lebih selaras dengan agenda dan kebutuhan nasional, bukan semata-mata mengikuti minat masing-masing peneliti.

Perubahan tersebut diharapkan membuat penelitian memiliki relevansi lebih kuat dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Dengan demikian, riset tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga membuka jalan bagi solusi yang bisa diterapkan.

Namun, upaya membangun inovasi kesehatan tidak bisa bertumpu pada satu institusi. Keterbatasan sumber daya dan kompleksitas persoalan kesehatan menuntut perguruan tinggi untuk memperluas jejaring kerja sama.

Salah satu inisiatif yang tengah dikembangkan Unpad adalah Asian University Research Alliance (AURA). Aliansi ini dirancang untuk mempertemukan perguruan tinggi di kawasan Asia guna memperkuat kolaborasi penelitian.

“Kolaborasi sangat penting karena tidak ada satu universitas pun yang dapat menyelesaikan seluruh persoalan sendirian. Kolaborasi dapat mengatasi keterbatasan sumber daya sekaligus mempercepat pelaksanaan penelitian,” papar Prof. Rizky.

Pentingnya kemitraan juga disoroti Wakil Rektor Bidang Penelitian Management and Science University Malaysia Prof. Norfilza Binti Mohd Mokhtar. Menurutnya, keterlibatan industri dan kolaborasi lintas disiplin perlu dibangun sejak awal penelitian, terutama agar hasil riset dapat diterapkan dalam layanan klinis. (gin)


Editor : Inilahkoran