Unpad Tawarkan Magister Fleksibel: Ilmu Dikejar Karier Bersinar
MENGEJAR karier dan pendidikan tak selalu harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya bisa diraih bersamaan melalui sistem perkuliahan yang lebih fleksibel.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Kesibukan pekerjaan sering kali menjadi alasan seseorang menunda keinginan melanjutkan pendidikan. Waktu yang terbatas, tuntutan profesional, hingga tanggung jawab pekerjaan membuat bangku kuliah terasa sulit dijangkau kembali.
Namun, pilihan untuk meningkatkan pendidikan kini semakin terbuka. Universitas Padjadjaran (Unpad) Kampus Jakarta menawarkan program magister dengan sistem perkuliahan fleksibel yang memungkinkan mahasiswa tetap bekerja tanpa harus mengorbankan waktu profesionalnya.
Melalui kegiatan Open Campus Magister Berbasis Project, Unpad memperkenalkan 10 program studi Magister Berbasis Proyek (MBP) kepada masyarakat. Kegiatan yang dihadiri 95 peserta tersebut berlangsung di Unpad Kampus Jakarta, Plaza Inare Lantai 10, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (30/10).
Program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat, terutama kalangan profesional yang ingin meningkatkan kompetensi akademis sekaligus mempertahankan aktivitas pekerjaan.
Kepala Kantor Unpad Kampus Jakarta, Prof. Dian Masyita, mengatakan, salah satu keunggulan program tersebut terletak pada fleksibilitas waktu perkuliahan. Mahasiswa tidak harus memilih antara melanjutkan pendidikan atau tetap bekerja.
"Kami menawarkan flexible time, artinya tidak harus memilih apakah bersekolah atau bekerja. Kami juga tidak menggunakan tesis, tetapi capstone project, di mana proyek-proyek yang dilakukan berhubungan dengan pekerjaan," ujar Dian, seperti dikutip dari kanal resmi Unpad.
Ada 10 program studi yang ditawarkan melalui skema Master by Project tersebut. Mulai dari Magister Agronomi, Magister Inovasi Regional, Magister Ekonomi Terapan, Magister Ilmu Keberlanjutan, Magister Farmasi, Magister Pariwisata Berkelanjutan, Magister Ilmu Hukum, Magister Akuntansi, Magister Ilmu Komunikasi, hingga Magister Manajemen.
Sistem pembelajarannya menggunakan model hybrid dengan komposisi sekitar 70 persen perkuliahan daring dan 30 persen tatap muka di kampus. Jadwal perkuliahan juga dirancang menyesuaikan waktu setelah jam kerja atau after office hour.
Hal menarik lainnya terletak pada penyelesaian studi. Mahasiswa tidak diwajibkan menyusun tesis seperti program magister pada umumnya, melainkan mengerjakan capstone project atau proyek akhir berbasis persoalan nyata.
Melalui skema tersebut, mahasiswa dapat mengangkat berbagai persoalan yang dihadapi dalam pekerjaan maupun profesinya. Persoalan itu kemudian dianalisis dan dikembangkan menjadi sebuah solusi yang menjadi bagian dari proyek akhir perkuliahan.
Dengan pendekatan ini, proses belajar tidak hanya berhenti pada pemahaman teori di ruang kelas. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa diharapkan dapat langsung diterapkan untuk menjawab tantangan di lingkungan kerja masing-masing. (gin)
Editor : Inilahkoran

