Warga Citeureup Apresiasi Solusi Pintu Penahan Air dari Pemkab Bandung untuk Antisipasi Banjir
Masalah banjir kiriman yang kerap meresahkan warga Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung kini mulai teratasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Soreang - Masalah banjir kiriman yang kerap meresahkan warga Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung kini mulai teratasi.
Salah satu penyebab utama banjir selama ini adalah sampah kiriman yang terbawa aliran air dari wilayah Kota Bandung dan sekitarnya, terutama saat hujan deras turun.
Wilayah terdampak seperti RW 17, RW 09 Pasigaran, hingga RW 13 Kampung Sukabirus selalu menjadi langganan luapan air yang bercampur sampah.
Namun, kini kondisinya saat ini sudah lebih baik berkat pembangunan langkah konkret Bupati Bandung Dadang Supriatna yang membangun pintu penahan air di sekitar Jembatan Pasigaran Dayeuhkolot.
“Dulu tiap hujan besar, sampah dari aliran atas masuk semua ke lingkungan warga. Plastik, kayu, bahkan limbah rumah tangga ikut terbawa. Tapi sekarang Alhamdulillah sudah tertahan, sampah enggak masuk lagi ke pemukiman," kata Nana (55), warga RW 17 Desa Citeureup, Kamis 10 Juli 2025.
Menurut Nana, pembangunan pintu penahan air berbahan besi ini merupakan hasil dari gerak cepat Bupati Bandung Dadang Supriatna yang menginstruksikan Dinas PUTR serta dibantu Tri Rahmanto, tokoh masyarakat Lamajang Peuntas, untuk segera mencari solusi teknis di lapangan.
“Semoga makin banyak wilayah yang terbantu seperti kami," ujarnya.
Tri Rahmanto yang juga pembina remaja masjid (Prima) bersama warga dan dukungan dari Bhabinkamtibmas Polsek Dayeuhkolot, kerap melakukan kontrol harian serta gotong royong di lokasi rawan banjir dan sumbatan sampah.
"Alhamdulillah, Pak Tri itu cepat merespons keluhan warga. Beliau langsung turun, bantu koordinasi dengan PRIMA , sampai informasi juga cepat sampai ke Pak Bupati," kata salah satu tokoh RW, Nana.
Di wilayah RW 13 Kampung Sukabirus, Komarudin (58) juga mengungkapkan hal serupa. Sebelumnya, air dari selokan mudah meluap karena banyak sumbatan sampah dan saluran yang dangkal.
Namun kini, kondisi tersebut berhasil diatasi setelah dilakukan normalisasi saluran TPT yang bermuara ke Sungai Cigede.
“Dulu air suka ngumpul di sini karena jalannya mampet. Sekarang sudah dibersihkan, dinormalisasi, alirannya lancar lagi. Terima kasih kepada Pak Tri yang sudah bantu koordinasi dengan pihak terkait,” kata Komarudin.
Meski kondisi membaik, warga berharap agar masalah sampah kiriman tetap menjadi perhatian serius semua pihak. Menurut warga, penanganan di hulu sangat menentukan keberhasilan penanggulangan banjir di hilir.
“Masalahnya bukan cuma air hujan, tapi limbah rumah tangga dari atas yang terbawa. Kalau di atas enggak dikontrol, kami yang di bawah terus jadi korban,” ujar Komarudin.
Editor : Doni Ramdhani
