Warga Pilih Relokasi Mandiri
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Agus Satia Negara
INILAH, Cisarua - Rumah-rumah itu telah lama hilang ditelan longsor. Yang tersisa kini hanyalah kenangan, selembar perjanjian sewa, dan harapan agar penantian tidak berlangsung terlalu lama.
Bagi puluhan keluarga di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, hidup di rumah kontrakan bukanlah pilihan yang ingin mereka jalani berlarut-larut. Ketika kepastian relokasi permanen dari pemerintah baru diperkirakan terealisasi pada 2027, mereka memutuskan mencari jalan lain.
Sebanyak 32 kepala keluarga yang menjadi korban bencana tanah longsor sepakat mengusulkan relokasi mandiri. Keputusan itu lahir melalui musyawarah desa, sebagai ikhtiar memperoleh kepastian tempat tinggal tanpa harus tercerabut dari sumber penghidupan yang selama ini mereka jalani.
Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis mengatakan, usulan tersebut muncul karena warga membutuhkan solusi yang lebih nyata dibanding terus menunggu program relokasi permanen pemerintah.
"Warga berpendapat relokasi permanen yang direncanakan pemerintah baru dapat direalisasikan pada 2027, sehingga diperlukan alternatif agar mereka tidak terlalu lama hidup dalam ketidakpastian," kata Nur Awaludin, Rabu (29/7).
Selama ini, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat memang telah memberikan bantuan biaya sewa rumah sebesar Rp600 ribu per bulan selama sembilan bulan. Bantuan itu meringankan beban warga, tetapi belum mampu menjawab kebutuhan akan tempat tinggal tetap.
Karena itulah, warga berharap diberi ruang untuk menentukan sendiri lokasi hunian yang aman, tanpa harus meninggalkan lahan garapan, pekerjaan, maupun lingkungan sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka.
"Warga hanya berharap diberi kepercayaan dan kesempatan menentukan sendiri lokasi hunian tetap yang aman, namun tetap berada dalam jangkauan lahan garapan, sumber mata pencaharian, serta lingkungan sosial yang sudah mereka kenal baik selama ini," ujarnya.
Nur menilai, relokasi tidak cukup hanya memindahkan rumah. Kehidupan warga juga harus ikut dipindahkan. Ia berkaca pada sejumlah daerah lain, ketika kawasan relokasi dibangun jauh dari sumber ekonomi sehingga akhirnya ditinggalkan penghuninya.
"Jangan sampai setelah pindah justru kehilangan mata pencaharian sehingga kehidupan mereka semakin sulit," tegasnya.
Menurutnya, relokasi mandiri dapat menjadi jalan tengah antara keselamatan warga dan keberlanjutan kehidupan mereka.
"Relokasi mandiri dinilai menjadi jalan tengah yang bijak antara keamanan lokasi dan keberlanjutan hidup warga," ujarnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

