Warisan Lokal Tetap Bertahan

Bandung Kulon menyimpan banyak cerita yang tak selalu terlihat dari hiruk-pikuk jalanannya.

Warisan Lokal Tetap Bertahan
PRODUK UMKM: Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Bandung Kulon, Ferri Yoga Sukmana, mengatakan wilayahnya memiliki kekayaan produk UMKM.

Oleh: Yogo Triastopo

INILAH, Bandung - Bandung Kulon menyimpan banyak cerita yang tak selalu terlihat dari hiruk-pikuk jalanannya. Di balik permukiman padat dan aktivitas warganya, tumbuh tangan-tangan terampil yang terus menghidupkan ekonomi keluarga melalui usaha kecil. 

Di satu sudut, mesin jahit dan gulungan kain terus bergerak. Di sudut lain, suara dentingan besi berpadu dengan bara api menempa alat-alat pertanian. 

Tak jauh dari sana, hasil panen kebun warga diolah menjadi minuman sehat yang mulai dikenal masyarakat. Semuanya lahir dari semangat yang sama: mengubah potensi menjadi penghidupan.

Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Bandung Kulon, Ferri Yoga Sukmana, mengatakan wilayahnya memiliki kekayaan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang cukup beragam.

Salah satu yang paling dikenal adalah industri kain yang berkembang di kawasan Cigondewah. Meski ikon sentra kain berada di wilayah Kecamatan Babakan Ciparay, banyak pelaku usaha rumahan di Bandung Kulon yang turut menopang denyut industri tersebut melalui berbagai produk turunannya.

"Salah satu potensi yang paling dikenal adalah sentra kain Cigondewah. Meski lokasi ikonnya berada di wilayah Kecamatan Babakan Ciparay, Bandung Kulon juga memiliki banyak pelaku industri rumahan yang menghasilkan berbagai produk unggulan," ujar Ferri, Selasa (21/7). 

Namun, Bandung Kulon tidak hanya hidup dari kain. Program Buruan SAE yang dikembangkan warga juga melahirkan berbagai produk olahan pangan. Hasil pertanian perkotaan yang ditanam di pekarangan rumah diolah menjadi aneka minuman sehat yang mulai dipasarkan melalui bazar dan berbagai kegiatan promosi.

Kelompok masyarakat di Cijerah dan Cigondewah Kaler, misalnya, berhasil mengembangkan beragam jus dan minuman berbahan hasil panen kebun sendiri. Dari kebun sederhana di tengah kota, lahir produk yang memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha.

"Banyak produk-produk di Bandung Kulon, mulai dari hasil kerajinan tangan hingga makanan olahan. Kami juga memiliki berbagai produk hasil program Buruan SAE yang diolah menjadi minuman sehat seperti aneka jus dari hasil panen kebun warga," kata Ferri.

Di sisi lain, Warung Muncang tetap mempertahankan identitas lamanya sebagai sentra kerajinan logam. Di bengkel-bengkel sederhana, para perajin masih menempa cangkul, linggis, garuk hingga katel, alat pertanian tradisional yang telah lama menjadi ciri khas wilayah tersebut. 

Di tengah gempuran produk pabrikan, kerajinan itu tetap bertahan karena kualitas sekaligus kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

"Sampai sekarang produksi alat-alat tersebut masih terus berjalan. Bahkan, pembuatan katel sudah menjadi ikon di Kelurahan Warung Muncang, Kecamatan Bandung Kulon," ujarnya. (gin)


Editor : Inilahkoran