Warisan Ukir yang Nyaris Terlupakan di Suranenggala

Di ujung kantor Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon terdengar suara ketukan halus dari pahat kayu. Di bawah tenda kecil, seorang pria berkaos oblong, celana pendek, dan topi bundar lusuh tampak sibuk membimbing anak-anak yang tengah memegang pahat dan papan kayu.

Warisan Ukir yang Nyaris Terlupakan di Suranenggala
Lelaki itu adalah Dodi, warga Suranenggala Lor yang telah lima tahun terakhir ini mencurahkan waktu dan tenaganya untuk sesuatu yang bagi sebagian orang tampak sepele. Dia saat ini konsen melestarikan seni ukir kayu khas Cirebon. (maman suharman)

INILAHKORAN, Cirebon - Di ujung kantor Desa Suranenggala Kidul, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon terdengar suara ketukan halus dari pahat kayu. Di bawah tenda kecil, seorang pria berkaos oblong, celana pendek, dan topi bundar lusuh tampak sibuk membimbing anak-anak yang tengah memegang pahat dan papan kayu.

Lelaki itu adalah Dodi, warga Suranenggala Lor yang telah lima tahun terakhir ini mencurahkan waktu dan tenaganya untuk sesuatu yang bagi sebagian orang tampak sepele. Dia saat ini konsen melestarikan seni ukir kayu khas Cirebon.

Namun bagi Dodi, ini bukan sekedar seni. Dia menganggap ini adalah warisan dan sebuah identitas budaya yang perlahan-lahan menghilang dari ingatan generasi muda.

Menurut Dodi, dulu ukiran kayu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Cirebon. Dari ornamen rumah, furnitur, hingga topeng dan wayang, semuanya merepresentasikan kekayaan budaya lokal yang begitu khas. Tapi, sejak Industri modern menggantikan keindahan tangan-tangan seniman dengan cetakan mesin, peminatnya semakin berkurang.

Melihat fenomena tersebut, Dodi lalu mendirikan Komunitas Ukir Bedulan. Sebuah ruang belajar yang terbuka untuk siapa saja yang ingin mengenal dan mendalami seni ukir kayu. Di ruang ini, tak ada batasan usia, tak ada biaya, dan tak ada keharusan memiliki bakat bawaan.

"Yang penting ada niat untuk belajar," kata Dodi, Minggu 29 Juni 2025.

Dodi menjelaskan, jauh sebelum mendirikan komunitas, dia pernah menjadi murid. Ia belajar dari seorang maestro ukir asal Cirebon bernama Mas Joko. Bertahun-tahun ia menyerap ilmu, teknik, dan filosofi di balik setiap motif ukiran. Dari gurunya itulah Dodi belajar bahwa mengukir bukan sekadar membentuk kayu, tapi juga membentuk karakter.

"Saya hanya ingin ilmu ini tidak mati. Jangan sampai generasi sekarang hanya tahu motif ukiran dari gambar di Google, tapi tidak tahu proses panjang dan nilai budaya di baliknya. Belajar disini semuanya gratis,” akunya.

Di komunitasnya, Dodi mengajarkan berbagai motif ukiran. Mulai dari motif mega mendung yang menjadi ikon budaya Cirebon, hingga tokoh-tokoh wayang.  Seperti Semar dan Arjuna. Semua ukiran dibuat dengan alat sederhana yaitu pahat, palu kecil, dan ketekunan.

"Kalau ukuran kecil bisa jadi dalam seminggu, tapi kalau besar bisa sampai dua bulan. Tergantung detail dan ukuran," jelas Dodi.

Sebelum memahat, Dodi menggunakan gambar yang dipindai ke plastik sebagai pola dasar. Pola itu kemudian ditempel di atas kayu dan menjadi panduan awal dalam mengukir. Ia pun selalu menyimpan salinan pola, jaga-jaga kalau yang satu rusak.

Meski tekadnya bulat, jalan yang dilalui Dodi tidak mudah. Lima tahun berjalan, komunitasnya belum mendapat dukungan berarti dari pemerintah daerah. Tak ada bantuan alat, pelatihan, promosi, atau fasilitas pemasaran.

"Padahal kami ini sedang berjuang menyelamatkan budaya. Kalau bukan pemerintah yang mendukung, lalu siapa lagi” keluhnya.

Ia berharap ke depan, pemerintah bisa lebih hadir. Memberikan ruang bagi komunitas seperti miliknya untuk tumbuh. Mulai dari promosi hasil karya ke wisatawan, pelatihan seni ukir di sekolah-sekolah, hingga pemasaran produk kreatif berbasis budaya lokal.

Dia menambahkan, tidak butuh panggung besar, hanya butuh dukungan agar bara kecil yang ia jaga tetap menyala. Agar generasi mendatang tak hanya tahu budaya dari buku sejarah, tapi juga bisa merasakannya, melalui sentuhan tangan, denting pahat, dan aroma kayu yang terukir pelan-pelan.

"Jika ada yang tertarik untuk melihat lebih dekat karya-karya Komunitas Ukir Bedulan atau ingin belajar langsung, cukup datang ke Suranenggala. Asal ada niat dan ketekunan saya berikan ilmu saya secara gratis," tukasnya.


Editor : Doni Ramdhani