10 Tahun Pizza Maker Junior, Petani KBB Dongkrak Pendapatan 70 Persen

Kemitraan Pizza Hut dengan 50 petani paprika di KBB membuat pendapatan petani meningkat 70 persen melalui kepastian pasar dan kontrak jangka panjang.

10 Tahun Pizza Maker Junior,  Petani KBB Dongkrak Pendapatan 70 Persen
10 Tahun Pizza Maker Junior, edukasi anak dan kemitraan CSA angkat ekonomi 50 petani Pasirlangu

INILAHKORAN.ID - Sepuluh tahun pelaksanaan program Pizza Maker Junior Pizza Hut Indonesia tidak hanya menjadi kegiatan edukasi dan hiburan bagi anak-anak. Di balik program tersebut, terdapat ekosistem Kemitraan Pertanian berbasis Kesepakatan Pasokan Terjamin atau Community-Supported Agriculture (CSA).

Kemitraan tersebut turut menopang pasokan bahan baku sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi warga Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Saat ini, sebanyak 50 Petani menyuplai paprika merah dan hijau ke 44 gerai Pizza Hut dan PHD di wilayah Bandung dan Jawa Barat.

Kepastian pasar dan harga melalui kontrak jangka panjang membuat pendapatan Petani meningkat hingga 70 persen dibandingkan sebelum bermitra.

District Manager Pizza Hut Indonesia, Iwan Liono mengatakan, program Pizza Maker Junior dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun kesadaran generasi mendatang mengenai asal-usul bahan makanan.

"Tujuan utama kami untuk menjaga pelanggan masa depan. Anak-anak yang kami ajak ke kebun hari ini, kelak mereka berkeluarga dan membawa anak-anaknya kembali ke sini," kata Iwan saat ditemui di Padalarang, Selasa (22/9/2026).

Menurut Iwan, melalui program tersebut anak-anak diajak melihat langsung proses produksi bahan makanan, mulai dari penanaman hingga menjadi makanan yang dikonsumsi.

"Mereka melihat langsung paprika ditanam, dipanen, dikirim, diolah, hingga menjadi piza yang mereka makan. Mereka paham bahwa bahan itu segar dan bisa layu dalam tiga hari, sehingga kualitas kesegaran yang utama," sambungnya.

Lebih jauh, Iwan menjelaskan bahwa pola Kemitraan dengan Petani tidak sekadar hubungan jual-beli. Kemitraan dibangun berdasarkan prinsip CSA, di mana Pizza Hut menjamin penyerapan hasil panen sesuai kebutuhan gerai, sementara Petani berkomitmen memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.

Harga komoditas juga disepakati sejak awal melalui kontrak jangka panjang lima tahunan. Saat ini, kerja sama tersebut telah memasuki periode kontrak kedua.

"Kalau hanya beli langsung ke pasar, kualitas dan kuantitas tidak akan konsisten. Petani akan menjual ke mana saja yang harganya lebih tinggi," jelasnya.

"Dengan kontrak, kami sepakati harga dan spesifikasi sejak awal. Grade A dan B masuk ke gerai, sedangkan yang tidak memenuhi standar disalurkan ke pasar tradisional. Kami juga belajar dari Petani cara menghasilkan paprika terbaik dan Kemitraan ini berjalan dua arah," sambung Iwan.

Kebutuhan paprika dari gerai Pizza Hut, lanjut Iwan, bersifat fluktuatif mengikuti tingkat permintaan konsumen. Permintaan biasanya meningkat saat hari raya dan relatif stabil pada hari biasa.

Jenis piza yang banyak dipesan di masing-masing gerai juga mempengaruhi kebutuhan bahan baku. Misalnya, piza Super Supreme membutuhkan lebih banyak paprika dibandingkan jenis lainnya.

"Sedangkan Meat Lover lebih banyak daging, dan Petani sudah menyesuaikan pola tanamnya," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sumber Tani Mulya, Dedey (44), mengatakan Kemitraan tersebut memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para Petani.

Sebelum bermitra, Petani menghadapi kesulitan dalam mencari pembeli. Selain itu, harga paprika juga cenderung berubah-ubah mengikuti kondisi pasar.

Kini, sekitar 120.000 tanaman paprika dibudidayakan melalui 120 greenhouse yang tersebar di lahan milik warga.

Dedey menyebut, setiap 1.000 tanaman dapat menghasilkan omzet sekitar Rp1,5 juta per bulan.

"Pendapatan kami naik 70 persen dibanding sebelum bermitra. Pemasaran sudah pasti, tidak perlu bingung mencari pembeli," kata Dedey.

Selain kepastian pasar, Petani juga memperoleh dukungan permodalan dari perusahaan. Kontrak kerja sama selama lima tahun pun telah diperpanjang dan kini Kemitraan tersebut telah berjalan selama tujuh tahun.

"Kami juga mendapat bantuan permodalan dari perusahaan. Kontrak lima tahun sudah diperpanjang, kami sudah berjalan tujuh tahun," ungkapnya.

Meski demikian, para Petani masih menghadapi tantangan berupa cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Kondisi tersebut dapat memicu serangan hama dan penyakit tanaman yang dampaknya baru terlihat dalam beberapa bulan berikutnya.

Dedey mengatakan kondisi tersebut rata-rata terjadi sekitar satu kali dalam setahun. Untuk mengantisipasi potensi penurunan produksi, Petani mempercepat penanaman cadangan.

"Paprika butuh perlakuan khusus, tidak sembarangan. Kalau cuaca tidak menentu, produksi bisa turun," ujarnya.

Petani juga menyesuaikan pola tanam dengan kebutuhan pasar. Ketika permintaan diperkirakan meningkat saat hari raya, penanaman dilakukan lebih awal agar pasokan tetap tersedia.

"Kami sudah hafal polanya, kalau permintaan naik saat hari raya, kami perbanyak tanam sebelumnya. Yang penting komunikasi tetap terjaga dengan tim Pizza Hut," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana