1.600 Mahasiswa Indonesia Ikuti Program Indonesian International Student Mobility Awards 2023
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mencatat tahun 2023 terdapat 1.600 mahasiswa Indonesia yang mengikuti program IISMA 2023. Sejak digulirkan pada 2023, Program IISMA begitu diminati mahasiswa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Jakarta- Sebanyak 1.600 mahasiswa Indonesia program sarjana dan vokasi akan berkuliah di luar negeri selama satu semester melalui program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2023.
Senior Manager Pengembangan Program dan Kemitraan Program IISMA, Hilda Cahyani mengungkapkan, sejak diluncurkan pada 2021, terdapat lebih dari 20.000 mahasiswa telah mendaftar ke Program IISMA dan sebanyak 3.797 mahasiswa akademik maupun vokasi telah dikirim ke luar negeri.
Sementara untuk tahun 2023, Kemendikbudristek mencatat ada 1.600 mahasiswa Indonesia yang mengikuti program tersebut.
"Program IISMA 2023 sendiri pada tahun ini akan memberangkatkan sebanyak lebih dari 1.600 mahasiswa," ungkap Hilda Cahyani dalam keterangan di Jakarta, Minggu, 22 Oktober 2023.
Menurut Hilda Cahyani, peserta penerima beasiswa program IISMA 2023 yang mengikuti studi di negara-negara Eropa pun berhasil menggelar sesi talkshow yang berisikan berbagai pengalaman mereka selama mengikuti studi.
Kegiatan talkshow ini merupakan salah satu kegiatan Tales from Around the World Challenge yang masing-masing akan dilakukan di lima Kawasan Program IISMA, Australia, Uni Eropa, Asia, Inggris dan Irlandia, serta Amerika.
"Kegiatan ini ditujukan sebagai wadah dalam mendiseminasikan berbagai cerita baik dan inspiratif yang dialami mahasiswa IISMA di Eropa," ujarnya.
Sementara itu, Sheena Mega Registra dari Persatuan Pelajar Indonesia Triveneto, Italia, mengaku membutuhkan waktu untuk beradaptasi ketika ia harus pergi ke negara yang baru dikunjungi namun seiring berjalannya perlahan dapat beradaptasi terutama jika bertemu sesama mahasiswa diaspora asal Indonesia.
Namun, di balik kesulitan beradaptasi, Sheena mengaku menemukan berbagai hal baru yang bisa menambah wawasannya tentang dunia, menambah koneksi, dan mempraktikkan kemampuan bahasa Inggrisnya secara langsung setiap hari.
Hal yang sama juga diceritakan oleh Catherine Stumer yakni mahasiswa Politeknik Negeri Semarang yang menjadi awardee IISMA di Université Polytechnique Hauts-de-France (UPHF), Valenciennes, Perancis.
Menurut Catherine, setelah merasakan secara langsung pembelajaran di UPHF selama beberapa bulan ternyata ia menemukan ada perbedaan signifikan dari metode pembelajaran di Indonesia dam Prancis.
"Yang aku rasakan jika di Indonesia kita masih fokus belajar dari sumber-sumber seperti buku dan bahan materi yang dibagikan oleh dosen. Kalau di sini kita bisa memanfaatkan hal-hal sekitar untuk belajar secara langsung," katanya.***
Editor : Ghiok Riswoto

