25 Merek Beras Fortifikasi Ditarik, DKPP Kota Bandung Langsung Sisir Pasar

DKPP Kota Bandung mulai menyisir pasar tradisional dan pasar modern menyusul penarikan 25 merek beras berlabel fortifikasi dari peredaran.

25 Merek Beras Fortifikasi Ditarik, DKPP Kota Bandung Langsung Sisir Pasar
Beras fortifikasi yang ditarik dari peredaran, menyusul temuan ketidaksesuaian kandungan pada label produk. (ilustrasi/yogo triasopo)

INILAHKORAN.ID - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mulai menyisir pasar tradisional dan pasar modern menyusul penarikan 25 merek beras berlabel fortifikasi dari peredaran.

Kepala DKPP Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan, monitoring dilakukan setelah pemerintah pusat mengumumkan adanya ketidaksesuaian kandungan pada sejumlah produk beras fortifikasi.

"Untuk Kota Bandung, kita sedang menyebar ke lapangan. Sebelum itu, kita sudah komunikasi dengan beberapa pasar dan mereka menyatakan 25 merek itu sudah ditarik di pasaran mereka," kata Gin Gin Ginanjar, Jumat (18/9/2026).

Menurutnya, sebelum turun langsung ke pasar. DKPP telah berkomunikasi dengan sejumlah pengelola pasar di Kota Bandung. Dari hasil komunikasi itu, beberapa pasar menyatakan telah menarik 25 merek beras yang masuk dalam daftar penarikan.

Dia menjelaskan, monitoring dilakukan di pasar tradisional maupun pasar modern. Langkah itu, dilakukan sebagai tindak lanjut setelah informasi penarikan produk dipublikasikan pemerintah pusat.

"Setelah diumumkan kemarin, kita juga ikut bergerak. Paling tidak secara formal kita bergerak ke pasar modern, dan pasar tradisional melakukan monitoring," ucapnya.

Gin Gin menyebut, beras fortifikasi pada dasarnya merupakan beras reguler yang mendapat tambahan zat gizi mikro. Kandungan tambahan itu, antara lain vitamin A dan asam folat yang ditujukan membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat.

"Jadi beras fortifikasi ini sebetulnya beras jenis reguler yang ditambahkan zat mineral mikro, difortifikasi. Ada istilahnya kernel, hanya sekitar satu persen sebetulnya," ujar dia.

Persoalan muncul, setelah hasil pemeriksaan menemukan kandungan yang diklaim pada label sejumlah produk tidak sesuai dengan hasil pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan dilakukan di empat laboratorium yang terakreditasi Kementerian Pertanian.

"Yang terjadi sekarang, klaim beras-beras fortifikasi yang harusnya ditambah ternyata tidak sesuai dengan apa yang tertera di label. Di label tertera mineral tertentu sekian miligram, setelah diperiksa di empat laboratorium yang terakreditasi oleh Kementan ditemukan ternyata tidak sesuai. Jadi ada pemalsuan di situ," jelasnya.

Meski monitoring masih berlangsung, Gin Gin memastikan sejauh ini belum ditemukan produk beras fortifikasi bermasalah itu di Kota Bandung. Masyarakat diminta tetap waspada, terhadap produk pangan yang beredar.

"Insyaallah, di Kota Bandung tidak ditemukan karena kita intens pemeriksaan termasuk mendampingi Satgas Pangan saat sidak. Pedagang Kota Bandung juga pintar dan bijak, kalau menemukan secara sadar mereka akan melaporkan. Tapi tetap kita waspada," tegas dia.

Dia menambahkan, pemeriksaan pangan akan terus dilakukan sebagai bagian dari pengawasan keamanan pangan. Ketersediaan beras secara umum pun, masih mencukupi untuk di Kota Bandung.

"Insyaallah bisa berjalan lancar. Yang penting beras secara umum di Kota Bandung tersedia cukup aman," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani