5 Wilayah Dilanda Bencana Alam, BPBD Jabar Minta Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan
Lima wilayah seperti Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, Subang, Kabupaten Bandung Barat dan Cianjur mengalami bencana hidrometeorologi, seiring hujan deras yang terjadi pada Kamis 4 Desember 2025 kemarin.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Lima wilayah seperti Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, Subang, Kabupaten Bandung Barat dan Cianjur mengalami bencana hidrometeorologi, seiring hujan deras yang terjadi pada Kamis 4 Desember 2025 kemarin.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) jawa barat mencatat, ada sembilan kejadian bencana yang terbagi di lima kabupaten/kota tersebut. Baik banjir, tanah longsor maupun cuaca ekstrem.
Berdasarkan laporan yang dihimpun per pukul 08.00 WIB pada Jumat 5 Desemver 2025, Kabupaten Sukabumi mengalami tiga kejadian, Kabupaten Bandung dua kejadian, Subang dua kejadian dan Kabupaten Bandung Barat serta Cianjur masing-masing satu kejadian. Total masyarakat terdampak, 3.824 jiwa terdampak dan 87 jiwa di antaranya mengungsi.
Kerusakan juga meluas pada fasilitas umum dan permukiman. Sebanyak 11 rumah rusak berat, 40 rusak sedang, 41 rusak ringan, serta 3.097 unit rumah terendam. Selain itu, 4 fasilitas pendidikan, 1 rumah ibadah, serta 53 hektare lahan sawah turut terdampak.
Mayoritas kejadian berlangsung di kawasan rawan bencana, terutama titik-titik yang rentan banjir dan longsor ketika intensitas hujan tinggi. Hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir ikut memperparah kondisi.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali Mulku Engkun mengatakan, tingginya curah hujan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. Mengacu data BMKG, Jawa Barat diprediksi menghadapi dua puncak musim hujan, yaitu Desember 2025 dan Februari–Maret 2026.
“Puncak musim hujan berada di depan mata. Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor,” ujar Teten.
Dia meminta masyarakat di daerah perbukitan mewaspadai tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti retakan permukaan, perubahan kemiringan bangunan, atau suara gesekan tanah.
“Jika terdapat tanda-tanda pergerakan tanah, segera menjauh dari lokasi dan menuju titik aman. Pastikan juga seluruh anggota keluarga mengetahui jalur evakuasi terdekat,” ucapnya.
Teten juga menyoroti pentingnya perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan. Kerusakan alam akibat penebangan pohon atau alih fungsi lahan dinilai meningkatkan risiko bencana.
“Kalau kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita. Mengembalikan fungsi alam adalah bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana,” tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti
