79 Karhutla Kepung Jabar: Hijau Hilang Bara Datang
KETIKA hujan menjauh, hutan perlahan kehilangan kelembapannya. Percikan kecil pun bisa berubah menjadi petaka.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono
Kemarau datang membawa panas yang panjang. Rumput-rumput menguning, tanah kehilangan lembapnya, sementara dedaunan mengering menjadi bahan bakar yang menunggu percikan.
Di tengah musim yang serbakering itu, hutan Jawa Barat menghadapi ancaman yang tak kasatmata. Api bisa bermula dari sesuatu yang sangat kecil. Bara rokok, pembakaran sampah, atau nyala yang ditinggalkan tanpa pengawasan.
Ketika satu percikan bertemu rerumputan kering, hutan tak lagi sekadar menjadi bentang hijau, tapi berubah menjadi ruang yang mudah dilalap api. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini semakin nyata seiring musim kemarau panjang yang diperkuat fenomena El Nino.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Terutama bagi mereka yang beraktivitas di kawasan hutan, membawa sumber api bukan perkara sepele.
"Semua orang harus hati-hati. Jangan pergi ke hutan membawa rokok. Selama kemarau ini jangan main dengan api," kata Dedi, Senin (10/8).
Peringatan itu menemukan alasannya dalam catatan kebakaran sepanjang tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat 79 kejadian karhutla sepanjang 1 Januari hingga 9 Agustus 2026. Api tersebar di 86 titik kecamatan dan telah menghanguskan sekitar 87 hektare lahan.
Sumedang menjadi daerah dengan kejadian terbanyak. Sementara Kota Bandung, Kuningan, Karawang, Garut, dan Ciamis juga mencatat sejumlah peristiwa kebakaran.
Belum ada korban jiwa dari rangkaian kejadian tersebut. Tidak ada pula laporan warga meninggal, hilang, mengungsi, atau terdampak langsung. Namun, hutan tidak pernah menghitung kerugian hanya dari jumlah manusia yang menjadi korban.
Satu hektare yang terbakar tetap berarti hilangnya ruang hidup bagi tumbuhan dan satwa. Api yang padam hari ini juga dapat meninggalkan jejak panjang pada ekosistem yang membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk pulih.
Kekhawatiran itu terlihat dari kebakaran yang terjadi di Alun-Alun Barat Suryakencana, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kamis (6/8).
Sekitar satu hektare lahan terbakar. Laporan awal diterima petugas Resor PTN Wilayah Gunung Putri sekitar pukul 15.15 WIB dari pengelola basecamp pendakian. Hamparan rumput kering dan sebagian vegetasi berkayu menjadi bagian kawasan yang dilalap api.
Yang membuat peristiwa tersebut semakin mengkhawatirkan adalah letak titik api. Lokasinya berada sangat dekat dengan Sabana Edelweiss, salah satu kawasan konservasi penting di Gunung Gede Pangrango.
Di sana, alam tidak sekadar menyimpan pemandangan. Ada tumbuhan, satwa, dan ekosistem yang tumbuh dalam waktu panjang. Sekali api datang, waktu yang diperlukan untuk mengembalikannya tidak bisa dihitung dalam hitungan hari. Karena itu, ancaman karhutla bukan hanya perkara api, tapi juga perkara kebiasaan manusia.
Pranata Humas Ahli BPBD Jabar Hadi Rahmat mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah di lahan terbuka. Api kecil dapat menjalar ketika bertemu rumput dan tanah yang sama-sama kehilangan basah.
"Jangan membakar sampah di lahan terbuka karena bisa memicu kebakaran yang menjalar ke lahan masyarakat," ujar Hadi.
Sampah pun tak seharusnya dilempar sembarangan. Dalam kondisi kering, benda yang tampak tidak berbahaya dapat menjadi bagian dari rantai munculnya titik api. "Buang sampah jangan sembarangan dan selalu saling berkomunikasi," katanya.
BPBD juga meminta masyarakat tidak menunggu api membesar untuk bertindak. Sebab, dalam kebakaran, waktu adalah jarak antara percikan kecil dan kobaran yang sulit dikendalikan.
Jika menemukan kebakaran hutan maupun lahan, warga diminta segera melaporkannya kepada BPBD setempat agar petugas dapat memberikan respons sedini mungkin.
"Kalau terjadi kebakaran atau kekeringan, masyarakat bisa melaporkan kepada BPBD setempat untuk dilakukan respons cepat," ujar Hadi.
Kepung 10 Provinsi
Fenomena karhutla mengepung sejumlah kabupaten/kota di sepuluh provinsi Indonesia sepanjang pekan pertama Agustus 2026, sebagaimana dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (10/8).
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengatakan bahwa wilayah terdampak membentang dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Aktivitas kelalaian manusia seperti pembakaran sampah, pembersihan lahan dengan cara membakar, hingga suhu panas musim kemarau di laporkan mendominasi pemicu munculnya titik api di berbagai daerah itu.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengkonfirmasi di Pulau Jawa, kebakaran terparah terjadi di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, dengan total luas lahan hangus mencapai 520 hektare hingga Minggu (9/8) malam, yang berujung pada penutupan total seluruh pintu masuk wisata hingga waktu yang belum ditentukan.
Sementara di luar Jawa, peristiwa karhutla berdampak signifikan melanda Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah seluas 72,4 hektare, Halmahera Timur di Maluku Utara seluas 23 hektare, serta Tana Toraja di Sulawesi Selatan seluas 15 hektare.
Peristiwa karhutla skala kecil seluas 1 hektare hingga sedang puluhan hektare juga terdeteksi dan berhasil dipadamkan petugas gabungan di Aceh Besar (Aceh), Belitung Timur (Babel), Subang (Jabar), Jepara dan Banyumas (Jateng), Jember (Jatim), Tojo Una-Una (Sulteng), serta Kota Sorong (Papua Barat Daya).
Menurut Abdul, tim petugas gabungan di seluruh daerah terdampak dimaksimalkan untuk menangani dan memitigasi sebaran api kebakaran, dengan turut menyiagakan peralatan penyiramam darat, truk tangki air, membuat sekat bakar, hingga penyiraman udara menggunakan helikopter waterboombing.
Guna mencegah eskalasi bencana hidrometeorologi kering tersebut, BNPB mengimbau keras masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta tidak melakukan pembakaran sampah di area terbuka.
Masyarakat juga diminta hemat menggunakan air bersih serta menyiapkan penampungan cadangan air selama periode musim kemarau yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Agustus - September ini.
Penanganan Maksimal
Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan penanganan karhutla secara maksimal dan terkoordinasi di tengah meningkatnya risiko kebakaran akibat kondisi kering dan penguatan El Nino.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Jakarta mengatakan, Presiden memberikan arahan tersebut untuk mengantisipasi meluasnya karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
"Masa El Nino ini, masih banyak terjadi karhutla-karhutla di sebagian wilayah Indonesia. Beberapa yang sangat banyak jumlah titik api adalah di Kalimantan Barat dan di Kalimantan Tengah, dan yang cukup besar terjadi di Jawa Timur, di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru," katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (10/8).
Pemerintah, menurut Prasetyo, memberikan perhatian terhadap kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dengan memperkuat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur, TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, dan pengelola taman nasional.
Koordinasi dilakukan untuk mempercepat pemadaman dan mencegah kebakaran meluas ke wilayah lainnya. Selain mengoptimalkan pemadaman darat, pemerintah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kemungkinan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Prasetyo mengatakan, pelaksanaan OMC bergantung pada kondisi atmosfer sehingga tidak dapat dilakukan di setiap wilayah terdampak karhutla.
Pemerintah juga menyiagakan armada udara, termasuk helikopter dan pesawat untuk melakukan pemadaman dari udara pada lokasi yang membutuhkan penanganan tersebut.
"Semua dimonitor, kemudian peralatan-peralatan termasuk water bombing, helikopter, dan pesawat-pesawat yang dapat membantu untuk mengatasi karhutla sesuai dengan petunjuk dan perintah Bapak Presiden tadi malam, hari ini semua kami koordinasikan," katanya.
BMKG menyatakan, penguatan El Niño pada periode musim kemarau meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran selama kondisi cuaca kering. (gin)
Editor : Inilahkoran


