Warna-warni Lorong Menyambut Kemerdekaan

PAVING blok di Hujung Kulon kini tak lagi sekadar pijakan. Tangan warga mengubahnya menjadi kanvas warna-warni untuk merayakan kemerdekaan.

Warna-warni Lorong Menyambut Kemerdekaan
LORONG SEMPIT: Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, lorong sempit di lingkungan Hujung Kulon, RT08/05, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, dipercantik. Tak ada lagi paving blok yang tampak kusam dan seragam.

Oleh: Agus Satia Negara

Lorong sempit di lingkungan Hujung Kulon, RT 08/05, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, kini tak lagi sekadar menjadi jalan penghubung antar-rumah. Paving blok yang biasanya hanya dipijak setiap hari berubah menjadi hamparan warna yang mengajak siapa pun yang melintas berhenti sejenak.

Merah dan putih hadir di antara goresan cat. Logo HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, gambar bendera, hingga tokoh kartun bernuansa kemerdekaan menghiasi kepingan paving blok. Sebuah lorong sederhana mendadak terasa seperti galeri kecil yang lahir dari tangan warga sendiri.

Gagasan itu bermula dari kegelisahan sederhana Iim Agus Salim. Ia merasa paving blok di depan rumahnya terlalu monoton. Warnanya kusam, berdebu, dan nyaris tak memiliki cerita.

“Mengapa tidak kita beri warna agar lorong ini tak sekadar jalan lewat, tapi juga menjadi semangat yang kita lihat setiap hari,” kata Iim, Senin (10/8).

Ide tersebut kemudian dibawa kepada para tetangga. Tidak ada proposal panjang, rapat besar, apalagi menunggu bantuan pemerintah. Warga hanya menyatukan keinginan: membuat lingkungan mereka lebih berwarna sekaligus menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan dengan cara sederhana.

Satu per satu kepala keluarga menyatakan bersedia ikut. Biaya cat dan perlengkapan lukis dikumpulkan secara swadaya.

“Patungannya sukarela, masing-masing Rp40 ribu. Yang penting niatnya sama, menyambut kemerdekaan dengan karya tangan sendiri,” ujarnya.

Kuas pun berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Bapak-bapak, pemuda, ibu-ibu hingga anak-anak ikut ambil bagian. Tidak semuanya piawai menggambar. Sebagian masih terlihat kaku ketika menyentuhkan kuas ke permukaan paving.

Namun, tidak ada yang mempersoalkan hasil yang tidak sempurna. Justru dari tangan-tangan amatir itulah lorong tersebut mendapatkan karakter. Setiap warna menjadi tanda bahwa karya itu dibuat bersama.

Pola yang dipilih pun tidak sekadar hiasan. Bendera Merah Putih dibuat berkibar, logo peringatan kemerdekaan ditampilkan, sementara gambar-gambar kartun favorit anak-anak turut menghiasi sisi jalan.

“Setiap hari kami melintas di sini, berangkat kerja, pulang beraktivitas. Kalau yang dilihat hanya batu abu-abu, ya hati pun terasa biasa saja. Tapi sekarang? Sekali melangkah, mata langsung disambut warna-warni,” tutur Iim.

“Rasanya semangat dan bangga menjadi bagian dari bangsa ini tumbuh lagi di hati,” lanjutnya.

Yang tumbuh ternyata bukan hanya warna. Selama pengerjaan, lorong itu menjadi ruang pertemuan warga. Ada yang membawa air minum, menyediakan makanan ringan, membantu mencampur cat, hingga memastikan hasil lukisan tidak terinjak sebelum kering.

Batas halaman rumah perlahan seperti menghilang. Lorong menjadi milik bersama. Dikerjakan bersama dan nantinya dinikmati bersama. (gin)


Editor : Inilahkoran