Ade Toleng, Menjaga Merah Putih Tetap Berkibar
Di bawah terik matahari Jalan Raya Margahayu–Soreang, Kabupaten Bandung, puluhan lembar bendera Merah Putih menari ditiup angin.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Di bawah terik matahari Jalan Raya Margahayu–Soreang, Kabupaten Bandung, puluhan lembar bendera merah putih menari ditiup angin.
Warna merah dan putih itu bukan sekadar kain yang dijajakan di pinggir jalan, melainkan saksi perjalanan hidup seorang pria yang selama 46 tahun mengabdikan dirinya pada tradisi menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia.
Namanya Ade Toleng (56), warga Desa Leles, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.
Sejak berusia 13 tahun, Ade telah akrab dengan bendera merah putih. Bukan sebagai peserta upacara, melainkan sebagai pedagang yang setiap tahun meninggalkan kampung halamannya untuk mencari nafkah dari musim kemerdekaan.
"Saya berdagang bendera setiap menjelang Agustus itu sejak umur 13 tahun. Semua daerah di Indonesia seperti Papua, NTT, NTB, Aceh, Bali dan semua daerah di Pulau Jawa sudah pernah saya datangi untuk berdagang bendera," ujar Ade kepada INILAHKORAN.ID, Minggu (26/7/2026).
Puluhan tahun silam, ketika anak-anak seusianya masih bermain di halaman rumah, Ade justru belajar membaca jalan. Dari Garut hingga Papua, dari Aceh sampai Nusa Tenggara, ribuan kilometer telah ia tempuh demi menjual simbol kebanggaan bangsa.
Namun, perjalanan panjang itu bukan semata soal mencari keuntungan.
Bagi masyarakat Desa Leles, berdagang bendera adalah sebuah warisan. Tradisi tersebut telah hidup sejak dekade 1970-an dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Hampir setiap rumah di kampung itu menjadi tempat lahirnya bendera merah putih, umbul-umbul, bandir, hingga berbagai atribut perayaan Hari Kemerdekaan.
"Saya mungkin generasi ketiga pedagang bendera dari Desa Leles. Dari dulu memang hampir semua warga di kampung kami membuat bendera," katanya.
Tradisi itulah yang membuat Ade kembali meninggalkan rumah setiap pertengahan Juli. Tahun ini ia memilih Kabupaten Bandung sebagai tempat mencari rezeki, ditemani tiga orang pekerjanya.
Mereka menyewa kamar kos sederhana seharga Rp500 ribu per bulan. Siang hari berdiri di tepi jalan menawarkan bendera, malam hari beristirahat sambil berharap dagangan esok lebih ramai.
Lapak yang mereka tempati pun bukan milik sendiri. Ade harus meminta izin kepada pemilik lahan kosong serta pengurus RT dan RW agar dapat berdagang selama musim kemerdekaan.
Di lapaknya tersedia berbagai ukuran bendera. bendera merah putih ukuran 90 sentimeter dijual Rp15 ribu, ukuran 1,5 meter Rp50 ribu. Umbul-umbul sepanjang tiga meter dibanderol Rp25 ribu, bandir empat meter Rp40 ribu, sementara bambu untuk tiang dijual Rp10 ribu.
Di balik harga yang tampak sederhana, tersimpan modal yang tidak kecil.
"Satu lapak itu modalnya sekitar Rp25 juta. Kalau bandar besar di kampung saya bisa sampai miliaran rupiah karena mereka memproduksi sendiri dan menyebarkan pedagang ke seluruh Indonesia," tuturnya.
Namun roda usaha yang dahulu begitu menjanjikan kini tak lagi berputar sekencang dulu.
Ade masih mengingat masa ketika masyarakat berbondong-bondong membeli bendera langsung di pinggir jalan. Saat itu para perajin di Desa Leles nyaris tak pernah berhenti bekerja. Setelah musim Agustus usai, mereka tetap membuat stok untuk tahun berikutnya.
Kini Keadaannya Berubah
Kemudahan berbelanja melalui marketplace membuat banyak pembeli beralih ke toko daring. Harga yang lebih murah membuat pedagang kaki lima seperti Ade semakin sulit bersaing, padahal biaya yang mereka keluarkan jauh lebih besar.
"Kalau dulu sebelum ada belanja online, kami tidak pernah sepi. Sekarang banyak yang beli lewat marketplace. Kami yang di jalan harus keluar biaya transportasi, sewa kos, makan, belum lagi kalau dagangan tidak habis," ujarnya.
Selepas musim kemerdekaan berlalu, Ade kembali ke lereng pegunungan Garut untuk menjadi petani kopi. Bertani menjadi penopang hidup ketika bendera-bendera merah putih kembali dilipat dan disimpan hingga musim Agustus berikutnya.
Meski begitu, setiap Juli ia selalu kembali ke jalan. Bukan karena pekerjaan ini menjanjikan kekayaan, melainkan karena telah menjadi bagian dari hidup yang sulit dipisahkan.
Di tengah derasnya arus perdagangan digital, Ade dan ribuan pedagang bendera tradisional lainnya sesungguhnya sedang mempertahankan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mata pencaharian. Mereka menjaga tradisi yang selama puluhan tahun menghidupi kampung-kampung perajin bendera di Indonesia.
Mungkin, ketika merah putih berkibar gagah di halaman rumah pada 17 Agustus nanti, tak banyak yang mengetahui perjalanan panjang di baliknya. Ada tangan-tangan perajin di Desa Leles yang menjahit setiap helai kain dengan telaten. Ada pedagang seperti Ade Toleng yang menempuh ribuan kilometer, bertaruh dengan panas, hujan, dan sepinya pembeli agar semangat kemerdekaan tetap hadir di setiap sudut negeri.
Ironisnya, di saat bangsa ini bangga mengibarkan merah putih sebagai simbol persatuan, para penjaga tradisi yang menghidupkan simbol itu justru harus berjuang menghadapi perubahan zaman. Mereka tidak meminta belas kasihan.
Mereka hanya berharap masih ada masyarakat yang bersedia berhenti sejenak di lapak-lapak sederhana di tepi jalan, membeli langsung selembar merah putih, dan ikut menjaga agar semangat gotong royong tetap berkibar bersama Sang Saka di setiap peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.***
Editor : JakaPermana

