Agar Para Pahlawan Tak Terjerat Godaan Instan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Tasikmalaya- Para guru tak hanya hidup dengan riuhnya suara anak-anak mengeja huruf. Mereka harus berjuang menghindarkan diri dari godaan instan bernama pinjaman online (pinjol).
Fakta mengejutkan dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dimana secara nasional profesi guru menyumbang angka tertinggi dalam akses pinjaman online.
Fenomena mirus ini dianggap OJK Tasikmalaya sebagai alarm keras untuk segera turun tangan memutus rantai jeratan finansial terhadap kaum pahlawan tanpa tanda jasa.
Kepala Kantor OJK Tasikmalaya, Nofa Hermawati, mengatakan berdasarkan data nasional, guru menyumbang sekitar 42 persen dari total outstanding pinjaman online berdasarkan profesi.
“Secara nasional, guru yang mengakses ke pinjol itu ada 42 persen dari total outstanding pinjol yang ada di kami,” kata Nofa, Selasa (25/8).
Menurutnya, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah profesi lainnya. Akses pinjol dari kelompok seperti pengemudi ojek online (ojol) maupun pekerja kantoran tercatat relatif kecil, yakni di bawah 10 persen.
Meski demikian, Nofa menegaskan OJK belum memiliki data yang secara spesifik menggambarkan persentase guru di wilayah Priangan Timur yang mengakses pinjaman online.
“Kalau secara spesifik data di Priangan Timur belum ada.
Cuma kami menengarai itu banyak, karena data nasional itu bisa kita draft bahwa itu mewakili masing-masing kota atau provinsi. Secara nasional 42 persen itu,” ujarnya.
Tingginya angka tersebut membuat profesi guru menjadi salah satu sasaran utama OJK Tasikmalaya dalam program literasi dan edukasi keuangan.
Nofa menyebut, OJK sebelumnya telah memberikan edukasi kepada para guru di Kabupaten Ciamis. Kegiatan serupa juga akan dilakukan di Kota Tasikmalaya pada akhir Agustus 2026.
“Makanya kami kemarin di Ciamis dengan guru-guru, edukasi. Nanti kami juga di akhir Agustus bersama dengan guru-guru juga edukasi di Kota Tasikmalaya,” katanya.
Menurut Nofa, edukasi tersebut penting agar masyarakat, khususnya para guru, semakin memahami risiko dan konsekuensi penggunaan pinjaman online serta mampu mengambil keputusan keuangan secara lebih bijak.
“Jadi sekarang profesi guru merupakan profesi yang kemudian menjadi sasaran kami untuk literasi dan edukasi,” pungkasnya.
(N Nurohman)
Editor : Inilahkoran

