Kawal Data Selamatkan KIP

Kawal Data Selamatkan KIP
SOROTI KIP: Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina saat berada di Cirebon, Jawa Barat.

INILAH, Jakarta - Perubahan angka dalam data sosial ekonomi bisa berujung pada perubahan besar dalam kehidupan sebuah keluarga. Bagi keluarga rentan, perubahan desil bukan sekadar urusan administrasi, tetapi bisa menentukan apakah anak tetap mendapatkan bantuan pendidikan atau tidak.

Kekhawatiran itu mendorong Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina mengusulkan pembentukan tim khusus untuk mengevaluasi data desil secara menyeluruh, terutama yang berkaitan dengan penyaluran Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Menurut Selly, pemerintah perlu memastikan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) benar-benar menggambarkan kondisi masyarakat di lapangan. Jangan sampai perubahan kategori justru membuat keluarga yang masih membutuhkan kehilangan akses terhadap bantuan pendidikan.

“Yang harus diperiksa adalah kualitas data, metodologi, pemutakhiran, dan mekanisme verifikasinya,” kata Selly dalam keterangannya di Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/8).

Selly menilai DTSEN merupakan langkah positif untuk membangun basis data sosial ekonomi yang lebih terintegrasi. Namun, data tersebut tetap membutuhkan verifikasi lapangan agar perubahan desil sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga yang sebenarnya.

Dia menemukan kemungkinan adanya keluarga yang mengalami perubahan desil secara signifikan. Persoalannya, perubahan tersebut belum tentu mencerminkan perubahan kondisi ekonomi secara nyata.

Karena itu, menurut Selly, desil tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran dalam menentukan kelayakan penerima perlindungan sosial, terutama bagi mereka yang sebelumnya sudah menerima manfaat program.

“Administrasi data jangan sampai mengancam keberlanjutan bantuan mahasiswa,” ujarnya.

Penilaian kondisi ekonomi keluarga, kata dia, semestinya melihat lebih banyak aspek. Mulai kondisi rumah, sanitasi, sumber air dan listrik, pendapatan, pengeluaran, aset, hingga kondisi anggota keluarga.

Dengan begitu, perubahan status dalam data tidak hanya didasarkan pada angka, tetapi benar-benar mencerminkan kehidupan masyarakat. (gin)


Editor : Inilahkoran