Arus Sungai Menempa Napas Para Jawara

SUNGAI Ciwidey menjadi “gym alami” bagi domba Garut.Setiap kayuhan kaki melawan arus adalah bagian dari latihan menuju arena.

Arus Sungai Menempa Napas Para Jawara
LATIHAN BERENANG: Seekor domba Garut menjalani latihan berenang melawan arus Sungai Ciwidey di Kampung Sungapan, Kabupaten Bandung. Aktivitas ini menjadi bagian dari perawatan untuk menjaga stamina, kekuatan fisik, dan daya tahan napas.

Oleh: Dani R Nugraha

Matahari belum juga menampakkan diri ketika jarum jam mendekati pukul 05.30 WIB. Udara dingin masih menggantung di Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung.

Di tengah suasana pagi yang masih senyap, kesibukan sudah dimulai di halaman rumah Noneng (55). Bersama suami, enam anak, dan menantunya, dia bergotong royong menaikkan enam ekor domba adu ke sebuah mobil pikap hitam beratap terpal biru.

Bukan hendak menuju pasar. Bukan pula menuju arena kontes. Pagi itu, keenam domba Garut kesayangannya punya tujuan lain: berenang.

Sekitar 20 kilometer perjalanan ditempuh menuju aliran irigasi Sungai Ciwidey di Kampung Sungapan, Desa Sukajadi, Kecamatan Soreang. 

Bagi orang awam, membawa domba ke sungai untuk berenang mungkin terdengar ganjil. Namun, bagi Noneng dan para pehobi domba adu, aktivitas itu merupakan bagian dari perawatan menuju arena.

Domba-domba tersebut tidak cukup hanya diberi pakan, vitamin, dan obat-obatan. Tubuh mereka juga harus dijaga tetap bugar. Otot perlu dilatih, napas dipanjangkan, sementara kelelahan setelah bertanding harus dipulihkan.

"Biasanya domba adu itu direnangkan setelah dan sebelum kontes atau diadukan. Tujuannya agar badannya sehat, napasnya panjang dan badan yang pegal-pegal setelah diadu kembali pulih," kata Noneng kepada INILAH, di tepi irigasi Sungai Ciwidey, Minggu (25/8). 

Bagi Noneng, Sungai Ciwidey bukan tempat baru. Kawasan itu sudah lama menjadi salah satu lokasi favorit para pemilik domba adu dari Bandung Raya. Aliran sungainya memiliki lebar sekitar empat meter, kedalaman sekitar 1,5 hingga 2 meter, dengan arus yang cukup deras dan air yang relatif jernih.

Kondisi tersebut justru menjadi alasan tempat ini disukai. Domba-domba tidak sekadar dimasukkan ke air. Mereka dilatih menghadapi arus.

Satu per satu domba diceburkan ke sungai. Pemiliknya kemudian turun ke air dan menuntun hewan tersebut berenang melawan arus. Gerakan itu dilakukan berulang-ulang hingga tubuh domba mulai kelelahan.

Air sungai menjadi arena latihan. Arus menjadi lawan yang harus ditaklukkan. Sesekali pemilik menarik tali untuk mengarahkan gerakan domba. Setelah beberapa waktu berenang, domba dibawa kembali ke tepian. Tubuhnya kemudian diikat dan dijemur hingga bulu-bulunya mengering.

"Antara 20 menit hingga satu jam domba diolahragakan berenang. Setelah itu dimandiin dengan sabun," kata Noneng.

Latihan pun selesai. Tetapi perawatan belum berhenti. Tanduk, bagian penting yang menjadi senjata dalam pertandingan, mendapat perhatian khusus. Noneng bahkan memiliki cara tersendiri untuk membersihkannya. Pasta gigi dan sikat gigi bekas digunakan untuk menggosok tanduk.

"Kalau bagian tanduk memang sengaja dibersihkannya pakai pasta gigi, agar tanduk yang merupakan senjatanya itu tetap kuat dan sehat," katanya.

Kecintaan Noneng terhadap domba adu bukan muncul dalam semalam. Hobi itu diwariskan dari sang kakek. Dari generasi ke generasi, kecintaan terhadap domba Garut terus dipelihara hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan keluarganya.

Kini, sekitar 30 ekor domba berada di rumahnya. Merawat domba pun tidak lagi menjadi pekerjaan satu orang. Suami, anak-anak, dan menantunya ikut terlibat. 

Bahkan perjalanan menuju sungai menjadi kesempatan untuk berkumpul bersama keluarga. Ada aktivitas merawat ternak, tetapi ada pula momen botram di tepian sungai.

"Tempat berenang domba adu di sini bisa dibilang favorit semua pemilik domba adu di Bandung. Bahkan kami sengaja datang ke sini sekeluarga, sekalian botram di tepi sungai," ujarnya.

Pehobi domba adu dari Kabupaten Bandung hingga Kota Bandung kerap datang ke kawasan tersebut.

Pada pagi-pagi tertentu, pemandangan mobil pikap yang berhenti di tepi jalan, domba-domba yang ditambatkan di pinggir sungai, serta para pemilik yang turun langsung ke air menjadi pemandangan biasa.

Pantauan INILAH pagi itu menunjukkan sedikitnya 20 ekor domba adu milik sejumlah penghobi dan padepokan sedang menjalani latihan.

Ada yang sibuk menuntun dombanya masuk ke air. Sebagian berdiri di tepian, memperhatikan hewan kesayangannya berenang melawan arus. Yang lain memandikan dan membersihkan tubuh domba setelah latihan.

Di tengah derasnya aliran Sungai Ciwidey, domba-domba itu tampak berusaha mempertahankan tubuhnya agar tetap bergerak maju. Mereka melawan arus, bukan sekadar untuk bergerak. (gin)


Editor : Inilahkoran