Akademisi Soroti Sekolah Maung Dikhawatirkan Ciptakan Kesenjangan Baru

Program Sekolah Maung yang digagas Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menuai sorotan. Akademisi menilai terobosan itu dikhawatirkan memunculkan kesenjangan baru.

Akademisi Soroti Sekolah Maung Dikhawatirkan Ciptakan Kesenjangan Baru
Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Islam Nusantara (Uninus) Hilman Wiranata menilai, konsep Sekolah Maung dapat menjadi inovasi dalam sistem pendidikan. Namun, pemerintah perlu memastikan program tersebut tidak hanya berfokus pada satuan pendidikan tertentu. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Program Sekolah Maung yang digagas Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi. Terobosan itu dikhawatirkan memunculkan kesenjangan baru antarsekolah.

Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Islam Nusantara (Uninus) Hilman Wiranata menilai, konsep Sekolah Maung dapat menjadi inovasi dalam sistem pendidikan. Namun, pemerintah perlu memastikan program tersebut tidak hanya berfokus pada satuan pendidikan tertentu.

Dia mengingatkan, pemberian fasilitas dan perhatian yang jauh lebih besar kepada sekolah tertentu berpotensi memperlebar jarak kualitas dengan sekolah lain yang masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.

“Ketika ada sekolah yang mendapatkan fasilitas lebih baik, sementara sekolah lain masih berkutat dengan keterbatasan sarana, infrastruktur, dan kualitas pembelajaran, maka kesenjangan pendidikan bisa semakin terlihat,” ujar Hilman, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, setiap program pendidikan harus dirancang secara matang dengan memperhatikan kesiapan sumber daya manusia, sistem pembelajaran, pola evaluasi, hingga indikator keberhasilan yang jelas dan terukur.

Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya itu menilai semangat menghadirkan sekolah unggulan jangan sampai melahirkan dikotomi antara sekolah elite dan sekolah reguler. Kondisi tersebut dikhawatirkan menciptakan stratifikasi baru dalam dunia pendidikan.

Hilman menegaskan, Sekolah Maung idealnya menjadi model percontohan yang dapat ditiru sekolah lain sehingga dampak peningkatan mutu pendidikan bisa dirasakan secara merata.

“Jangan sampai muncul anggapan bahwa pendidikan berkualitas hanya tersedia di sekolah tertentu. Jika itu terjadi, maka jurang kualitas pendidikan akan semakin lebar,” katanya.

Selain itu, Hilman juga mempertanyakan keberlanjutan program tersebut dalam jangka panjang. Menurut dia, kebijakan pendidikan seharusnya memiliki fondasi sistem yang kuat dan tidak bergantung pada figur kepala daerah semata.

“Ketika terjadi pergantian kepemimpinan, apakah program ini tetap berjalan atau tidak? Itu yang perlu dipikirkan sejak awal,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Islam Tasikmalaya (Unitas) Ade Zaenul Mutaqin melihat Sekolah Maung sebagai gagasan baru yang bertujuan membentuk generasi unggul melalui penguatan karakter, kedisiplinan, serta kesiapan sosial.

Menurut Ade, konsep tersebut lahir dari kebutuhan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dalam menghadapi tantangan masa depan.

“Secara ide, ini merupakan terobosan baru yang berupaya membentuk manusia unggul, baik dari sisi intelektual maupun karakter,” kata Ade.

Meski demikian, dia berharap sekolah unggulan tidak berkembang menjadi lembaga pendidikan yang eksklusif. Menurutnya, inovasi yang diterapkan seharusnya dapat menjadi contoh bagi sekolah lain agar kualitas pendidikan meningkat secara merata.

“Kalau hanya berfokus pada sekolah tertentu, dikhawatirkan muncul kesan eksklusif dan hierarki di kalangan peserta didik. Idealnya, peningkatan mutu pendidikan dilakukan secara menyeluruh,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (KCD) Wilayah XII Jawa Barat Zhairy Andhryanto memastikan seluruh pelaksanaan Program Sekolah Maung berada di bawah koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Dia menjelaskan, pihaknya telah melakukan sosialisasi secara berjenjang mulai dari tingkat dinas pendidikan kabupaten/kota, sekolah SMP dan MTs, hingga pemerintah desa dan orang tua siswa.

“Kami sudah melakukan sosialisasi secara luas dan membentuk tim kerja untuk mendukung pelaksanaan program ini,” kata Zhairy.

Dia menambahkan, mekanisme pendaftaran telah diatur dalam pedoman Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat. Seluruh calon peserta didik diwajibkan menggunakan akun masing-masing yang telah diberikan melalui sekolah asal.

Dengan berbagai pandangan yang berkembang, Program Sekolah Maung kini menjadi sorotan publik. Selain dipandang sebagai inovasi untuk mencetak generasi unggul, program tersebut juga memunculkan diskusi mengenai pentingnya pemerataan kualitas pendidikan agar tidak menimbulkan kesenjangan baru di lingkungan sekolah.


Editor : Doni Ramdhani