Aplikasi Penulis hingga UMKM, Potensi Ekraf Cirebon
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cirebon- Di balik geliat usaha fesyen, kuliner, dan kerajinan, Kota Cirebon ternyata menyimpan potensi ekonomi kreatif yang semakin beragam.
Kreativitas warga tidak lagi hanya diwujudkan melalui produk yang bisa disentuh dan dinikmati, tetapi juga merambah dunia digital melalui berbagai inovasi aplikasi.
Mulai dari aplikasi yang membantu aktivitas penulis hingga platform untuk mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menjadi gambaran bagaimana pelaku ekonomi kreatif di Kota Cirebon mulai memanfaatkan teknologi untuk membuka peluang usaha baru.
Potensi tersebut mendapat perhatian Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya saat menghadiri kegiatan IDE.IND di Kota Cirebon, Jawa Barat, Kamis.
Riefky menilai, perkembangan ekonomi kreatif di Cirebon tidak hanya bertumpu pada subsektor yang selama ini dikenal masyarakat, seperti fesyen, kuliner, kriya, dan kerajinan.
Sektor digital juga mulai menunjukkan peluang besar seiring munculnya inovasi dari para pelaku kreatif setempat.
"Kami melihat bahwa banyak sekali potensi yang luar biasa, tidak hanya yang saat ini sudah berkembang seperti fesyennya, kuliner, kriya, kerajinan, tetapi juga sektor yang berbasis digital," katanya.
Menurut Riefky, kehadiran berbagai aplikasi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat Cirebon terus berkembang. Apalagi, pertumbuhan komunitas dan para pegiat ekonomi kreatif turut menjadi modal penting untuk melahirkan inovasi baru.
"Kami juga melihat bahwa potensi dari Kota Cirebon terhadap ekonomi kreatif dan komunitas-komunitas berkembang itu cukup besar," ujarnya.
Pemerintah, kata Riefky, berupaya mendorong potensi tersebut agar tidak berhenti sebatas ide atau kreativitas.
Melalui kegiatan IDE.IND yang merupakan bagian dari program Kreatif, Baik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif ingin membuka ruang bagi para pelaku kreatif di daerah untuk berkembang dan memperluas peluang usaha.
Sebab, bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif, memiliki ide menarik saja belum cukup. Mereka juga membutuhkan pendampingan agar karya yang dihasilkan bisa berkembang menjadi produk bernilai ekonomi dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Riefky menjelaskan, pemerintah telah memberikan pendampingan melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, akses pendanaan, perluasan pasar, promosi, hingga pengurusan legalitas dan hak kekayaan intelektual (HaKI).
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kemampuan pelaku UMKM mengomersialisasikan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP). Dengan memiliki perlindungan HaKI dan strategi komersialisasi yang tepat, kreativitas yang mereka bangun berpeluang menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
"UMKM naik kelas itu lebih kepada mereka yang sudah bisa mengomersialisasikan kekayaan intelektualnya, sudah didaftarkan HaKI-nya, kemudian meningkatkan akses pasar dan pendanaannya," kata Riefky.
Ia menambahkan, perjalanan sebuah usaha kreatif membutuhkan proses panjang. Semuanya berawal dari sebuah ide, kemudian dikembangkan menjadi produk, didaftarkan legalitas dan HaKI-nya, hingga akhirnya dipasarkan secara berkelanjutan.
"Idenya menghasilkan kreativitas, kemudian legalitasnya didaftarkan, dan dikomersialisasikan secara berkelanjutan serta meningkatkan kualitas produk," tuturnya. (bsf)
Editor : Inilahkoran

