Asa Sekolah Terhalang Masalah

SEBANYAK 7.800 anak di Kota Bandung belum mengenyam pendidikan. Pemerintah kini berpacu membuka jalan agar mereka kembali bersekolah.

Asa Sekolah Terhalang Masalah
SEKOLAH RAKYAT: Sejumlah siswa sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di salah satu sekolah. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, mengandalkan program sekolah rakyat guna menangani sekitar 7.800 anak tidak sekolah (ATS) berusia 6 hingga 18 tahun. Hingga saat ini, baru ratusan anak yang berhasil dijangkau melalui berbagai program pendidikan.(INILAH/YOGO TRIASTOPO)

Oleh : Yogo Triastopo

Keinginan untuk bersekolah terkadang harus berhadapan dengan keadaan yang jauh lebih rumit daripada sekadar ketiadaan ruang kelas. Ada anak-anak yang tumbuh hingga usia belasan tahun tanpa pernah merasakan bangku sekolah. Sebagian bahkan harus menjalani kehidupan dengan keterbatasan keluarga dan minimnya pendampingan orang tua.

Kondisi itu menjadi gambaran persoalan anak tidak sekolah (ATS) di Kota Bandung. Sekitar 7.800 anak berusia 6 hingga 18 tahun tercatat belum mengakses pendidikan. Dari jumlah tersebut, baru ratusan anak yang berhasil dijangkau melalui berbagai program pemerintah.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui, mengembalikan ribuan anak tersebut ke dunia pendidikan bukan pekerjaan mudah. Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan sekolah, melainkan juga kondisi sosial dan keluarga yang membuat sebagian anak kehilangan kesempatan belajar sejak dini.

Salah satu pengalaman yang membekas bagi Farhan terjadi ketika menemukan dua anak di toilet umum kawasan Leuwipanjang. Saat ditanya mengenai keberadaan orang tua, keduanya mengaku sudah tidak memiliki ibu. Sementara ayah mereka bekerja sebagai pemulung.

Di tengah keadaan tersebut, keduanya justru menyampaikan keinginan sederhana: bersekolah.

"Kemudian saya bertanya, 'Kamu sedang apa di sini?' Mereka menjawab, 'Tidak tahu Pak. Saya ingin sekolah.' Akhirnya kita ambil dan kita sekolahkan," tutur Farhan, Kamis (5/11/2026).

Kedua anak itu kemudian diarahkan masuk sekolah rakyat. Usia mereka yang sudah melewati usia sekolah pada umumnya membuat pendekatan pendidikan reguler tidak lagi mudah diterapkan.

Kisah tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa persoalan ATS tidak selalu bisa diselesaikan dengan membuka ruang penerimaan peserta didik baru. Ada anak yang membutuhkan pendekatan khusus, pendampingan sosial, hingga dukungan lingkungan keluarga agar dapat kembali mengakses pendidikan.

Karena itu, Pemkot Bandung kini mengandalkan program sekolah rakyat sebagai salah satu upaya menangani ribuan anak yang belum bersekolah. Program yang dioperasikan Kementerian Sosial tersebut saat ini telah tersedia di dua lokasi di Kota Bandung.

Farhan berharap kapasitas layanan itu dapat diperluas dengan menghadirkan satu sekolah rakyat baru di kawasan Gedebage. Rencana tersebut didukung hibah tanah dari Presiden Prabowo Subianto yang diharapkan dapat diterima pada pertengahan November.

"Untuk penanganan anak tidak sekolah, saat ini kita sangat berharap pada program sekolah rakyat. Sekolah rakyat sudah dioperasikan oleh Kementerian Sosial di Kota Bandung, dan saat ini ada dua lokasi," kata Farhan.

Dia berharap penambahan lokasi di Gedebage dapat segera direalisasikan sehingga lebih banyak anak memperoleh kesempatan untuk kembali belajar.

"Insya Allah, mudah-mudahan pada pertengahan November kita sudah menerima hibah tanah dari Presiden Prabowo untuk membangun satu sekolah rakyat lagi di Gedebage," ujarnya. (gin)


Editor : Inilahkoran