Hasil Uji Lab MBG Kota Cirebon Keluar: Bukti Dua Bakteri

AKHIRNYA, penyebab dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon mulai terungkap.

Hasil Uji Lab MBG Kota Cirebon Keluar: Bukti Dua Bakteri
UJI LAB: Kepala Dinkes Kota Cirebon, dr. Siti Maria Listiawaty, mengungkap hasil pemeriksaan laboratorium kasus keracunan MBG yang menemukan dua jenis bakteri pada sejumlah sampel makanan.(INILAH/MAMAN SUHARMAN)

Oleh: Maman Suharman

Ratusan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon sempat mengalami masa sulit setelah menyantap makanan yang seharusnya membantu memenuhi kebutuhan gizi mereka.

Mual, muntah, hingga diare dialami para korban. Bahkan, seorang anak sempat mengalami penurunan kesadaran dan harus mendapatkan perawatan intensif.

Kini, penyebab dugaan keracunan massal yang terjadi di wilayah Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, mulai menemukan titik terang.

Hasil pemeriksaan laboratorium Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon menemukan dua jenis bakteri dalam sejumlah menu makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat.

Kedua bakteri tersebut adalah Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus. Temuan ini memperkuat dugaan adanya kontaminasi bakteri pada makanan dalam program MBG yang berdampak terhadap 426 orang.

Kepala Dinkes Kota Cirebon, dr. Siti Maria Listiawaty, mengatakan, temuan tersebut diperoleh setelah pihaknya melakukan pemeriksaan kimiawi dan mikrobiologi terhadap sampel makanan serta sumber air yang digunakan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Dari hasil pemeriksaan, bakteri Staphylococcus aureus ditemukan pada menu sup telur puyuh. Sementara itu, Bacillus cereus terdeteksi pada sampel wortel, nasi, dan orek tempe.

"Kesimpulannya, dari hasil pemeriksaan biakan ditemukan pertumbuhan koloni bakteri pada beberapa sampel makanan. Temuan ini mendukung gejala-gejala yang dialami para korban dalam kasus dugaan keracunan makanan tersebut," ujar Maria, Kamis 5 November 2026.

Tak hanya menemukan kontaminasi bakteri, pemeriksaan laboratorium juga mendeteksi kandungan nitrit pada sampel sayuran dan nasi. Kandungan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit.

Menurut Maria, temuan ini menjadi perhatian karena keamanan makanan tidak hanya ditentukan oleh bahan baku yang digunakan, tetapi juga proses pengolahan dan penyimpanannya sebelum sampai ke tangan penerima manfaat.

Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah pengendalian suhu dan lamanya makanan disimpan. Sebab, makanan yang terlalu lama berada dalam kondisi penyimpanan yang tidak sesuai berisiko mengalami penurunan kualitas dan keamanan.

"Pembentukan nitrit ini bisa terjadi karena aktivitas bakteri. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah waktu penyimpanan dan rantai dingin makanan. Ada kemungkinan makanan sudah melewati batas waktu penyajian yang seharusnya, yakni sekitar empat jam," jelasnya.

Di tengah temuan tersebut, hasil pemeriksaan terhadap sumber air justru tidak menunjukkan adanya persoalan pada parameter kimiawi yang diuji.

Sampel air minum galon, air PDAM, maupun air tanah dinyatakan masih berada dalam batas normal. Dengan demikian, hasil laboratorium sejauh ini lebih mengarah pada dugaan kontaminasi sejumlah menu makanan.

Meski demikian, pemeriksaan tersebut belum memastikan secara pasti pada tahapan mana kontaminasi terjadi, apakah saat pengadaan bahan baku, proses memasak, penyimpanan, atau distribusi makanan.

Di balik hasil pemeriksaan laboratorium tersebut, ada kabar melegakan bagi keluarga para korban. Dinkes Kota Cirebon memastikan seluruh penerima manfaat yang sebelumnya menjalani perawatan medis kini telah diperbolehkan pulang.

Maria mengungkapkan, selama penanganan kasus, sempat ditemukan seorang pasien anak dengan kondisi cukup serius hingga mengalami penurunan kesadaran.

Kondisi tersebut tentu menjadi perhatian dalam penanganan kejadian yang melibatkan ratusan penerima manfaat MBG. Beruntung, setelah mendapatkan perawatan intensif, kondisi anak tersebut berangsur membaik hingga akhirnya dinyatakan pulih.

"Alhamdulillah, tidak ada kasus yang berlanjut menjadi kondisi lebih berat. Seluruh pasien sudah pulang dalam keadaan sehat," katanya.

Terungkapnya temuan laboratorium ini menjadi pengingat bahwa program MBG tidak cukup hanya memastikan makanan tersedia dan dibagikan tepat waktu. Kualitas serta keamanan setiap menu yang sampai kepada penerima manfaat juga harus benar-benar terjaga.

Evaluasi menyeluruh diperlukan, mulai dari pengadaan bahan baku, kebersihan peralatan dapur, proses memasak, penyimpanan, hingga pengaturan waktu distribusi.

Pengawasan terhadap operasional SPPG juga menjadi hal penting agar makanan yang diterima anak-anak dan penerima manfaat lainnya benar-benar aman untuk dikonsumsi.

Sebab, bagi para penerima manfaat, makanan MBG bukan sekadar menu harian. Program ini diharapkan menjadi salah satu upaya mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan generasi muda.

Kasus yang berdampak pada 426 orang di Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, tersebut menjadi pelajaran penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Keamanan pangan harus menjadi prioritas sejak makanan disiapkan di dapur hingga akhirnya disantap oleh penerima manfaat. (bsf)


Editor : Inilahkoran