Bandung Barat Dihadapkan Sejumlah Tantangan, Jeje Dukung Raperda Pengembangan Ekonomi Kreatif
Pemkab Bandung Barat mendukung Raperda Pengembangan Ekonomi Kreatif untuk memperkuat potensi 17 subsektor ekraf. Bupati Jeje menilai regulasi ini penting menghadapi tantangan dan mendorong pertumbuhan daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat mulai memandang ekonomi kreatif sebagai fondasi penting bagi pembangunan daerah di masa depan.
Arah itu tampak jelas saat Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyampaikan dukungannya terhadap Raperda Inisiatif DPRD tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam rapat paripurna yang membahas sejumlah regulasi strategis.
Jeje menilai hadirnya raperda tersebut sangat relevan dengan kebutuhan ekonomi saat ini, terutama ketika kreativitas menjadi kekuatan baru yang mampu mendorong daya saing daerah.
"Kreativitas hari ini adalah sumber daya baru, the new capital. Ia perlu dilindungi, difasilitasi, dan dikembangkan sebagai kekuatan ekonomi masa depan," kata Jeje.
Menurutnya, ekonomi kreatif kini bukan lagi sektor pendamping, tetapi motor pertumbuhan ekonomi modern yang mengandalkan inovasi, kekayaan budaya lokal, serta pemanfaatan teknologi digital. Potensi itu, tambah Jeje, sudah terlihat di berbagai wilayah Bandung Barat.
"Bandung Barat memiliki potensi kreatif yang tersebar di berbagai wilayah, seperti Lembang–Cisarua dengan wisata kreatif dan seni pertunjukan, Cililin–Cihampelas dengan kriya bambu dan kuliner rakyat, Batujajar dengan musik dan komunitas urban kreatif, serta Parongpong dengan craft dan ekowisata kreatif," tuturnya.
Pemkab mencatat, terdapat sekitar 68.000 UMKM dan pelaku usaha kreatif di Bandung Barat, termasuk 14.500 pelaku dari 17 subsektor ekonomi kreatif.
Jeje merinci, subsektor unggulan mencakup kuliner (42,1%), kriya-souvenir (18,4%), fashion (12,6%), serta musik, fotografi, dan videografi (11,2%). Sementara subsektor aplikasi dan digital marketing menyumbang sekitar 4,9%.
Namun, perkembangan tersebut masih dibayangi sejumlah persoalan. Jeje menyebut minimnya creative hub, akses permodalan yang terbatas, perlindungan HKI, hingga kebutuhan digitalisasi pemasaran dan integrasi data pelaku ekraf sebagai hambatan yang harus segera diperbaiki.
Karena itu, dia berharap raperda inisiatif DPRD dapat menjadi dasar kuat untuk membangun ekosistem kreatif yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
"Raperda Ekonomi Kreatif diharapkan menjadi landasan penting untuk membangun ekosistem kreatif yang lebih kuat dan berkelanjutan, memberikan kepastian hukum, menyediakan program inkubasi dan memperkuat kolaborasi multipihak," imbuhnya.
"Termasuk mendorong inovasi dan digitalisasi, memetakan subsektor unggulan, mengembangkan creative hub, serta meningkatkan kontribusi ekraf terhadap PDRB daerah," sambungnya.
Jeje memastikan bahwa Pemkab Bandung Barat menerima dan menyetujui raperda tersebut untuk masuk ke tahap pembahasan selanjutnya.
"Dengan mempertimbangkan potensi, tantangan, serta arah pembangunan daerah dan nasional, Pemerintah Daerah menerima dan menyetujui Raperda Pengembangan Ekonomi Kreatif untuk dibahas lebih lanjut," ujarnya. ***.
Editor : Gin gin T Ginulur
