DKPP Kota Bandung Kembali Terima Laporan Sapi Terindikasi PMK

DKPP Kota Bandun kembali menemukan dugaan hewan ternak jenis sapi potong dan perah yang terindikasi PMK

DKPP Kota Bandung Kembali Terima Laporan Sapi Terindikasi PMK
Lima sapi yang berasal dari Kota Bandung positif PMK dan kini sedang diisolasi untuk mendapatkan perawatan.

INILAHKORAN, Bandung - Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) di Kota Bandung kembali ditemukan. Setelah sebelumnya lima ekor sapi terpapar di Kecamatan Babakan Ciparay. Kini, wabah tersebut ditemukan di Kecamatan Cibiru dan Bandung Kulon.

"Dua hari lalu kita ada informasi, ternyata ada indikasi PMK di Kelurahan Cisurupan yang terbagi dua jenis yaitu sapi perah dan sapi potong. Kemudian di Kecamatan Bandung kulon juga ada laporan," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar, Kamis 2 Juni 2022.

Dijelaskan Gin Gin Ginanjar, dari temuan tersebut. Sebanyak sembilan ekor sapi telah dilakukan pemeriksaan Balai Veteriner Subang. Hasilnya akan keluar dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan hewan tersebut positif PMK.

Baca Juga: Fatwa MUI: Hewan PMK Gejala Klinis Berat Tidak Sah Dijadikan Hewan Kurban

"Jadi untuk di Kecamatan Cibiru (Cisurupan), itu diambil empat sampel. Dua sapi perah dan dua sapi potong. Sementara untuk di Kecamatan Bandung Kulon, diambil lima sampel, karena syarat pengambilan sampel yaitu 10 persen dari koloni," ucapnya.

Menurut Gin Gin, semua kasus terindikasi PMK pada hewan ternak di Kota Bandung berawal dari sapi yang dikirim dari luar daerah. Seperti halnya lima kasus di Kecamatan Babakan Ciparay yang berasal dari ternak yang didatangkan dari Purwakarta.

"Dari tiga kejadian PMK di Kota Bandung. Semuanya berasal dari pengiriman sapi dari luar daerah. Intinya memasukkan diam-diam tanpa ada surat keterangan sehat. Yang di Cibiru dan Bandung Kulon dikirim dari Sumedang dan Majalengka," ujar dia.

Baca Juga: Waspada PMK di KBB, Hengky Imbau Hal Ini ke Peternak

Gin Gin menambahkan, dari lima ekor sapi yang positif PMK di Babakan Ciparay. Satu diantaranya mati akibat kondisi kesehatan yang terus memburuk. Sementara satu ekor lainnya disembelih bersyarat untuk menghindari penyebaran lebih meluas.

"Perkembangannya dari lima itu, satu ekor mati dan satu ekor disembelih bersyarat karena kondisinya semakin parah dan peternak khawatir tidak tertolong dan menyebarkan ke yang lain. Jadi dari lima itu tersisa tiga dan masih dalam perawatan," tandasnya. *** (Yogo Triastopo)


Editor : inilahkoran