INILAHKORAN, Ngamprah - Warga Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dibuat panik lantaran kondisi air di Situ Dua Ciburuy berubah warna hitam.
Warga menduga kondisi tersebut terjadi lantaran adanya pencemaran yang berasal dari limbah pabrik.
"Kejadian ini sudah satu Minggu warnanya hitam pekat, kalau malam bau sekali, sampai ikan dilokasi pada mati", kata Surya Mandiri warga setempat saat dikonfirmasi.
Ketua RT 03/RW13, Kampung Cikadu, Desa Ciburuy, Yayat mengatakan, masyarakat di sekitar Situ Dua Ciburuy merasa khawatir dengan kondisi tersebut. Menurutnya, selain kondisi airnya hitam, bau menyengat juga membahayakan bagi kondisi kesehatan.
"Kalau tempat tinggal saya sedikit jauh, yang paling terdampak ada empat RW, antara lain RW 7, 8, 13, dan 14 yang memang merasa resah," sebutnya.
Ia menjelaskan, untuk pembuangan limbah sendiri diketahui melalui saluran drainase kecil yang langsung menghubungkan ke Situ Dua Ciburuy dan Danau Ciburuy.
"Alirannya lewat sana samping balongan ikan milik warga, dan langsung nembusnya ke Situ Ciburuy," jelasnya.
Ia menyebut, perusahaan tersebut berdiri di lokasi sekitar milik pribadi dan sudah cukup lama. Bahkan, pihaknya juga bersama warga sekitar sudah melakukan mediasi kala itu. Namun, pertemuan warga dengan pihak desa hanyalah isapan jempol.
"Warga dengan pihak desa sudah melakukan upaya mediasi, tapi sampai saat ini belum ada tindakan, pabrik tersebut milik pribadi," terangnya.
Lebih jauh ia menuturkan, kondisi air hitam pekat dan bau menyengat itu kerap terjadi saat musim kemarau tiba. Sedangkan, kalau musim hujan air akan terbawa arus.
"Kalau musim hujan air kebawa arus, jadinya gak terlalu bau, kalau musim kemarau kaya sekarang jarang hujan, air akan kelihatan hitam pekat dan bau, ikan milik warga yang ditepian pada mati", tuturnya.
Sementara itu, warga RW13 yang terdampak besar, Ita mengaku, pihaknya saat ini kesulitan mendapatkan air bersih lantaran kondisi air sumur miliknya tercemar limbah.
"Buat konsumsi minum air bersih saya minta di atas karena air sumur saya enggak bisa dikonsumsi, apalagi untuk mandi di musim kemarau bikin gatal-gatal," ucapnya.
Ia menyebut, kondisi diperparah saat musim kemarau tiba. Pasalnya, air sumur yang digunakan warga sekitar kerap menimbulkan penyakit.
"Semua keluarga di rumah itu kena penyakit gatal. Dan saya berharap Pemda KBB bisa turun tangan," sebutnya.
Ia menambahkan, pihaknya sudah berkomunikasi dan melakukan mediasi dengan pemerintah setempat. Namun, belum ada solusi hingga kini.
"Sudah rapat beberapa kali dengan pak RT setempat, hanya saja saya gak tahu kedepannya seperti apa. Mudah-mudahan ada solusi baik buat warga yang terdampak khususnya," tandasnya.*** (agus satia negara).