Dosen UPI Yusi Riksa Yustiana Sebut Perundungan Bisa Mencederai Perasaan dan Pikiran
Dosen UPI Yusi Riksa Yustiana menyebut efek perundungan terhadap anak bisa bisa mencederai perasaan pikiran dan berdampak negatif
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Perundungan atau bullying adalah perilaku tidak menyenangkan baik secara verbal, fisik, ataupun sosial di dunia nyata maupun dunia maya yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, sakit hati dan tertekan baik dilakukan oleh perorangan ataupun kelompok.
Melihat fenomena perundungan belakangan ini, Kepala Badan Bimbingan dan Konseling dan Pengembangan Karir Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Yusi Riksa Yustiana angkat bicara.
Menurut dia, bahaya sekali yang namanya perundungan dimanapun. Karena, ini akan mencederai perasaan, mencederai pikiran dan membuat anak ini memiliki pandangan yang negatif terhadap dirinya.
Baca Juga: Orang Tua dan Guru Berperan Penting Cegah Dampak Perundungan Anak
Oleh karenanya, memang kondisi-kondisi anak itu perlu belajar hormat atau respect kepada orang lain, bagaimana anak itu sebenarnya menghargai orang lain dan membantu orang lain.
"Itu kan harusnya tertanam pada kita semua, apalagi yang mengaku orang Indonesia yang mengaku ramah tamah dan sebagainnya," ujar Yusi Riksa Yustiana, Minggu 24 Juli 2022.
Tapi dari sisi dimensi kemanusiaan setiap orang, lanjut dia, harusnya saling menghormati, setiap orang harusnya menyayangi. Artinya ada yang salah pada saat ada sekelompok orang yang merasa bahagia dan merasa senang pada saat menyakiti orang lain.
Baca Juga: Anggota Komisi IV DPRD Ini Sayangkan Aksi Perundungan Viral di Dekat Istana Bogor
"Kalau buat saya, para pelaku ini harus juga harus memperoleh terapi, agar mereka juga paham bahwa yang mereka lakukan itu salah, tidak hanya sekadar bahwa orang tuanya meminta maaf sebenarnya, anak-anak ini yang harusnya juga merespons seperti apa sih sebenarnya yang terjadi pada diri mereka," paparnya.
Walaupun, pihaknya mengetahui bahwa anak-anak yang melakukan ini juga "korban" pola didik atau pola asuh apa yang mereka lihat di media sosial, sehingga merasa bahwa mereka itu jagoan.
"Itu yang perlu menjadi perhatian semua. Bagi saya, itu perhatiannya dua sisi ini, pada korban dan pada pelaku. Karena, dari sisi psikologis ada pola prilaku yang tidak tepat kepada keduanya," ucapnya.
Baca Juga: Bocah 11 Tahun di Tasikmalaya Tewas Usai Setubuhi Kucing, Begini Komentar Dosen UPI
Selain itu, Yusi Riksa Yustiana menekankan, bahwa pendidikan kedamaian itu harusnya dari sejak awal menjadi pola dikehidupan keluarga. Apalagi kalau dilihat dari sisi agama, khususnya Islam yang penuh dengan kedamaian.
"Tapi kalau kita melihat dalam konteks global, kita bisa bicara dari sisi pengembangan karakter yang kuat, yang harus dimiliki oleh anak-anak kita dari usia dini," imbuhnya.
Dalam pikirannya itu bukan konflik, tapi harus damai, damai itu bukan adanya konflik, justru karena damai membuat tidak ada konflik. *** (Okky Adiana)
Editor : inilahkoran


