Pusat Karir di Perguruan Tinggi Minim, Hanya 5 Persen

Keberadaan pusat karir di perguruan tinggi sejauh ini masih minim hanya 5%. Padahal, unit tersebut relatif penting bagi para lulusan.

Pusat Karir di Perguruan Tinggi Minim, Hanya 5 Persen
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama Pipin Sukandi mengatakan, selain sebagai pelacakan lulusan sebenarnya pusat karir di perguruan tinggi itu merupakan jembatan penghubung antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dunia industri (DUDI).



INILAHKORAN, Bandung - Keberadaan pusat karir di perguruan tinggi sejauh ini masih minim. Padahal, unit tersebut relatif penting bagi para lulusan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama Pipin Sukandi mengatakan, selain sebagai pelacakan lulusan sebenarnya pusat karir di perguruan tinggi itu merupakan jembatan penghubung antara perguruan tinggi dengan dunia usaha dunia industri (DUDI).

Dengan keberadaan pusat karir di perguruan tinggi tersebut, dia menyebutkan para pencari kerja dan perusahaan/lembaga yang membuka lowongan kerja akan menjadi sinergi dan memudahkan lulusan maupun perusahaan mendapatkan tenaga kerja.

Baca Juga: Mobil Warga Arcamanik Diduga Dirusak Pemotor, Polisi Kebingungan Tidak Ada Laporan

Menurutnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Dan Teknologi menjadikan salah satu penilaian dalam indikator kinerja utama perguruan tinggi yaitu lulusan bermutu.

"Artinya setiap perguruan tinggi wajib mengetahui posisi lulusannya dan kualitas dari lulusan tersebut. Saat ini kurang lebih, baru 5% perguruan tinggi yang memiliki pusat karir. Artinya masih sedikit kesadaran perguruan tinggi akan pentingnya unit dari pusat karir," kata Pipin saat menjadi narasumber utama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah 4 (LLDIKTI) Jawa Barat dan Banten, Selasa 26 Juli 2022.

Sedangkan, manfaat dari pelacakan lulusan atau yang sering disebut tracer study dapat menjadikan bahan evaluasi perguruan tinggi, pengembangan atau perubahan kurikulum dengan demikian kurikulum pendidikan dapat menyesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini apakah masih relevan digunakan atau tidak. (Okky Adiana)


Editor : inilahkoran