Banyak Orang Mudik Jelang Lebaran Idulfitri, Ternyata Begini Akar Sejarahnya
Mudik berasal dari kata mulih idik, atau udik atau hulu di mana orang kota pulang ke kampung halaman.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Hari ini, Selasa, 17 Maret 2026, sudah banyak orang yang memulai Mudik ke kampung halaman mereka untuk melaksanakan Lebaran Idulfitri dengan keluarga.
Mudik bukan sekedar pulang kampung saat Lebaran, kata sederhana ini tersimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan budaya sungai, urbanisasi hingga pola hidup masyarakat Indonesia.
Tradisi pulang ke kampung halaman sebenarnya telah berakar jauh sebelum kemerdekaan Indonesia terjadi.
Menurut Catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), cikal bakal Mudik sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit.
Tradisi ini ternyata telah ada sejak masa Kerajaan Majapahit, ketika para pejabat mengunjungi kampung halaman.
Para pejabat kerajaan yang ditugaskan ke wilayah kekuasaan yang jauh akan pulang ke pusat Kerajaan untuk menghadap Raja, dan mengunjungi kampung halaman mereka secara berkala.
Dan istilah Mudik sendiri yang dikutip dari situs Indonesia Baik milik Kementerian Komunikasi dan Digital RI, ternyata memiliki banyak makna mulai dari 'mulih dilik' (istilah jawa) yang berarti pulang sebentar.
Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Mudik didefinisikan sebagai aktivitas pergi ke udik atau pedalaman serta pulang ke kampung halaman.
Universitas Gajah Mada juga menjelaskan secara etimologis, bahwa Mudik berasal dari kata 'udik' dalam bahasa melayu yang berarti hulu atau ujung sungai.
Kementerian Perhubungan RI jugamenjelaskan, tradisi Mudik mulai menguat sejak era 1970-an, ketika arus urbanisasi ke Jakarta dan kota-kota besar semakin masif.
Seiring berjalannya waktu, aktivitas pulang ke kampung halaman ini dikenal luas sebagai Mudik.
Saat ini Mudik tidak lagi terbatas pada satu perayaan, melainkan telah berkembang menjadi tradisi sosial, identitas dan akar budaya, yang melekat pada masyarakat Indonesia untuk mempererat silaturahmi sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.
Pemerintah juga kini melibat Mudik sebagai instrumen pemerataan ekonomi spontan, karena selama Mudik terjadi perputaran uang triliunan rupiah dari pusat kota ke daerah-daerah terpencil.
Konsumsi rumah tangga di desa juga meningkat tajam, melalui sektor transportasi, kuliner lokal, hingga pariwisata daerah.
Jadi apakah Anda Mudik tahun ini dan melakukan Lebaran Idulfitri di kampung halaman dan rumah orang tua?.***
Editor : Irma Nurfajri


