Belajar Investasi Sebelum Terjebak FOMO
Gen Z kini menjadi kelompok terbesar di pasar modal Indonesia. Namun investasi tak cukup bermodal ikut tren dan rasa penasaran.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gen Z kini menjadi kelompok terbesar di pasar modal Indonesia. Namun investasi tak cukup bermodal ikut tren dan rasa penasaran.
Di ruang kelas, mereka belajar akuntansi, laporan keuangan, dan teori ekonomi. Namun di luar kampus, mereka hidup di tengah banjir informasi yang bergerak jauh lebih cepat daripada buku teks.
Setiap hari, media sosial dipenuhi cerita tentang saham yang melonjak, cuan yang menggiurkan, hingga influencer yang membagikan rekomendasi investasi.
Di tengah derasnya arus informasi itu, banyak anak muda tergoda masuk ke pasar modal hanya karena takut ketinggalan tren. Fenomena itulah yang coba dijawab melalui Roadshow Literasi Saham untuk Gen Z yang kali ini digelar di Universitas Widyatama, Bandung.
Bagi para mahasiswa yang hadir, kegiatan tersebut bukan sekadar mendengar paparan tentang investasi. Mereka diajak memahami bagaimana pasar modal bekerja, bagaimana membaca peluang, sekaligus memahami risiko yang menyertainya.
Direktur Utama PT bjb Sekuritas Maryadi Suwondo mengatakan, generasi muda saat ini menjadi kelompok yang paling dominan di pasar modal Indonesia.
"Karena tingginya kontribusi itu, maka penting untuk memberikan literasi dan edukasi kepada mereka. Jangan sampai Gen Z itu dalam mengambil keputusan investasinya hanya FOMO saja," kata Maryadi.
Menurutnya, sekitar 50 hingga 60 persen investor pasar modal saat ini berasal dari kalangan Gen Z. Angka itu menunjukkan, anak muda semakin tertarik berinvestasi, namun sekaligus menghadirkan tantangan baru berupa kebutuhan edukasi yang memadai.
Maryadi mengakui sebagian besar mahasiswa sebenarnya sudah mengenal berbagai instrumen investasi seperti saham dan reksa dana. Namun mengenal belum tentu memahami.
Pasar modal, kata dia, bukan tempat untuk sekadar mengikuti tren. Dibutuhkan kemampuan membaca kondisi perusahaan, memahami laporan keuangan, serta menilai prospek bisnis sebelum mengambil keputusan.
"Pengambilan keputusan investasi harus berdasarkan analisa fundamental," ujarnya.
Karena itu, literasi dan edukasi dinilai tidak bisa selesai dalam satu kali pertemuan. Pengetahuan mengenai investasi harus dibangun secara bertahap agar investor muda memiliki bekal yang cukup ketika benar-benar terjun ke pasar modal.
Perubahan teknologi juga ikut mengubah wajah investasi. Kini hampir seluruh aktivitas investasi dapat dilakukan melalui telepon genggam. Bahkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai digunakan dalam berbagai layanan keuangan.
Maryadi menilai perkembangan tersebut tidak bisa dihindari.
"Di bjb Sekuritas pun kita sudah menyesuaikan dengan kebutuhan investor. Mekanisme digital dan AI sekarang menjadi keharusan," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Jawa Barat Achmad Dirgantara. Menurutnya, tingginya minat mahasiswa terhadap investasi harus diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
Karena itu, dalam kegiatan tersebut mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga simulasi praktik yang memperkenalkan langsung mekanisme pasar modal.
"Kita mengharapkan para mahasiswa itu tidak hanya mendapat teori di kelas, tapi di sini diberikan aspek praktik langsung di lapangan," ujarnya.
Menurut Achmad, kunci utama menjadi investor bukanlah modal besar, melainkan kemauan untuk terus belajar. Investor muda harus mampu memahami kondisi perusahaan yang akan dipilih dan tidak sekadar mengikuti rekomendasi yang beredar di media sosial.
"Paling penting, para investor muda itu harus mengetahui dan memahami analisa fundamental. Dan itu sifatnya logis, bukan cuma ikut-ikutan," katanya.
Data yang dimiliki Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah investor terbesar di Indonesia. Hingga Mei 2026 tercatat sekitar 5,53 juta investor berasal dari Jawa Barat.
Di Kota Bandung sendiri terdapat lebih dari 403 ribu investor, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia muda di bawah 40 tahun.
Besarnya jumlah investor muda menunjukkan, kesadaran finansial mulai tumbuh sejak usia kuliah. Namun sebelum berbicara mengenai keuntungan investasi, ada fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu.
Officer Individual Banking bank bjb Sofan Rahmat mengingatkan pentingnya kesehatan keuangan pribadi sebelum berinvestasi.
Menurutnya, investor pemula sebaiknya memiliki arus kas yang sehat, tidak terjebak utang konsumtif, memiliki dana darurat, dan terlindungi asuransi.
"Sebagai fondasi investasi, mahasiswa sebagai calon investor itu sebaiknya memiliki empat hal," ujar Sofan.
Bagi Muhammad Rifqi Arifian, mahasiswa Universitas Widyatama yang mengikuti kegiatan tersebut, pengalaman bertemu langsung dengan praktisi pasar modal memberikan pemahaman yang berbeda dibandingkan hanya belajar di kelas.
"Ikut jadi peserta kegiatan ini, kita semakin melek. Gak cuma belajar teori di kelas, kita diberikan simulasi untuk praktik langsung ke lantai bursa yang diajarkan langsung dari praktisi pasar modal," ucapnya.
Download Sertifikat Seminar di sini
Editor : inilahkoran

