Bergerak Kini, Sehat Nanti

TUBUH diciptakan untuk bergerak. Namun, gaya hidup modern justru membuat banyak orang lebih sering duduk daripada beraktivitas.

Bergerak Kini, Sehat Nanti
AJAK OLAHRAGA: Wali Kota Bogor Dedie A Rachim didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Erna Nuraena saat olahraga akhir pekan bersama masyarakat. Dedie mendorong masyarakat Kota Bogor untuk menerapkan pola hidup sehat dengan memperbanyak aktivitas fisik, bergerak, serta berolahraga. Saat ini angka harapan hidup masyarakat Kota Bogor mencapai 76,24 tahun.

Oleh : Rizki Mauludi

Pagi di Kota Bogor selalu memberi alasan untuk keluar rumah. Udara yang masih segar, jalanan yang belum terlalu padat, dan ruang-ruang terbuka menjadi tempat ideal untuk sekadar berjalan kaki.

Namun, tak semua warga memanfaatkannya.

Di balik tingginya angka harapan hidup masyarakat Kota Bogor yang kini mencapai 76,24 tahun, masih tersimpan persoalan yang tak kasatmata. Banyak warga ternyata masih kurang bergerak, jarang berolahraga, serta belum menjadikan pola hidup sehat sebagai bagian dari keseharian.

Temuan itu terlihat dari hasil penelitian Kementerian Kesehatan terhadap 5.000 responden di Kota Bogor. Penelitian tersebut menunjukkan konsumsi buah dan sayur masih rendah, sementara makanan dan minuman manis justru cukup tinggi.

Dampaknya pun nyata. Hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, hingga stroke masih menjadi penyakit yang banyak ditemukan.

Temuan itu diperkuat melalui program Cek Kesehatan Gratis yang dijalankan Pemerintah Kota Bogor sejak 2025. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau lebih dari separuh penduduk Kota Bogor.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan masih banyak masyarakat di Kota Bogor yang kurang bergerak," ujar Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, Minggu (19/7). 

Menurut Dedie, perubahan gaya hidup tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, senam bersama, atau rutin berolahraga di lingkungan tempat tinggal sudah menjadi langkah penting menjaga kesehatan.

Karena itu, dia mengajak masyarakat memanfaatkan berbagai ruang publik yang tersedia sebagai tempat beraktivitas fisik. Baginya, usia harapan hidup yang tinggi harus diiringi dengan kualitas hidup yang sehat, bukan sekadar hidup lebih lama.

"Ini memang harus muncul kesadaran bagaimana cara mulai membiasakan diri bergerak," katanya.

Dedie berharap budaya hidup aktif dapat tumbuh melalui berbagai kegiatan rutin di lingkungan masyarakat. Jalan sehat, gerak jalan, hingga senam bersama dinilai mampu menjadi kebiasaan baru yang mendorong masyarakat lebih banyak bergerak.

Harapannya, angka harapan hidup warga Kota Bogor terus meningkat, bahkan mampu mendekati negara-negara dengan kualitas kesehatan terbaik.

"Kalau bisa setiap minggu ada gerak jalan, jalan sehat, ada senam dan sebagainya. Mudah-mudahan indeks harapan hidup masyarakat Kota Bogor bisa meningkat menjadi 80 tahun, bahkan 85 tahun seperti di Jepang," ujarnya.

Semangat serupa juga datang dari BPJS Kesehatan melalui Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis). Program ini ditujukan untuk membantu peserta yang hidup dengan hipertensi dan diabetes agar penyakitnya tetap terkendali melalui perubahan gaya hidup.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Kota Bogor, Jayadi, mengatakan aktivitas fisik menjadi salah satu cara paling efektif mencegah komplikasi penyakit kronis.

Karena itu, kegiatan Prolanis kini tidak hanya diisi senam, tetapi juga gerak jalan sehat dengan pola 3-3-5: berjalan santai selama tiga menit, dilanjutkan berjalan cepat tiga menit, dan diulang sebanyak lima putaran. 

Menurut Jayadi, kebiasaan sederhana itu dapat membantu menjaga kebugaran, meningkatkan kualitas kesehatan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan. (gin)


Editor : Inilahkoran