BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di Riau Lebih Kering dan Panas dari 2025
Waspada puncak kemarau di Riau pada 2026 diprediksi akan lebih panas dan kering dibanding tahun sebelumnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) memprediksi kondisi musim kemarau di Provinsi Riau pada 2026 akan lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Situasi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa perbedaan kondisi iklim antara 2025 dan 2026 dipengaruhi oleh fenomena iklim global. Pada 2025, kondisi cuaca relatif lebih basah karena dipengaruhi fenomena La Niña dengan intensitas lemah yang terjadi pada awal hingga akhir tahun.
Namun, pada 2026 situasi diperkirakan berubah. Fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) diprediksi berada dalam fase netral mulai April, sehingga potensi curah hujan akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pada 2025 kondisi lebih basah karena La Nina lemah. Sementara pada 2026, ENSO diperkirakan berada pada fase netral sehingga kondisi diprediksi lebih kering,” kata Faisal dalam konferensi pers di Pekanbaru.
Berdasarkan catatan klimatologi selama tiga dekade terakhir, BMKG memperkirakan curah hujan pada 2026 berada sedikit di bawah kondisi normal. Wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat saat ini juga sedang memasuki periode yang dikenal sebagai “kemarau kecil”.
Dalam periode tersebut, hujan masih bisa terjadi sesekali sebelum wilayah-wilayah tersebut memasuki puncak musim kemarau. BMKG memperkirakan puncak kemarau akan berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026.
Untuk mengantisipasi meningkatnya risiko karhutla, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah melakukan langkah mitigasi sejak dini. Salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca dengan menyemai awan agar hujan turun di wilayah yang rawan kebakaran.
Langkah ini bertujuan membasahi lahan gambut dan kawasan hutan sebelum memasuki periode paling kering dalam setahun. Dengan kondisi lahan yang lebih jenuh air, potensi kebakaran dapat ditekan.
Selain itu, BMKG juga terus memantau perkembangan kemungkinan munculnya fenomena El Niño pada tahun-tahun mendatang. Jika fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan angin monsun Australia yang kering, maka Indonesia berpotensi mengalami musim kemarau yang lebih panjang.
BMKG menegaskan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian terkait, serta instansi penanggulangan bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Faisal, dukungan data dan pemantauan iklim akan terus diberikan agar berbagai pihak dapat lebih sigap dalam mengantisipasi potensi bencana selama musim kemarau mendatang.
Editor : Firda Rachmawati
