BNNK Bandung Barat Ungkap Strategi Penanganan Narkoba di Wilayahnya
BNNK Bandung Barat mengungkapkan cara penanganan penyalahgunaan narkoba di KBB yakni dengan cara rehabilitasi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bandung Barat menetapkan pendekatan rehabilitasi sebagai fokus utama dalam menangani penyalahgunaan narkoba.
Upaya tersebut dilakukan dengan menganggap pengguna yang datang secara sukarela sebagai korban yang perlu diselamatkan, bukan hanya objek penegakan hukum.
Kepala BNNK Bandung Barat AKBP, Agus Widodo menjelaskan, rehabilitasi merupakan langkah krusial untuk memulihkan kondisi fisik dan psikologis para pengguna, terutama bagi mereka yang telah masuk fase ketergantungan berat.
"Bagi yang sudah terlanjur tenggelam dalam penyalahgunaan narkoba, mau tidak mau harus dipulihkan. Proses ini memang tidak mudah bagi yang sudah terlalu jauh, namun kami tetap berusaha mengembalikan kondisi mereka," kata Agus, Senin 23 Februari 2026.
Agus menuturkan, program pemulihan dilakukan melalui berbagai metode berlapis, mencakup pendekatan berbasis komunitas, sosial, hingga medis.
"Layanan ini terbuka untuk seluruh masyarakat dan disosialisasikan melalui berbagai jalur, mulai dari lingkungan pendidikan, pemerintah desa, hingga forum keagamaan," tuturnya.
Salah satu poin penting yang ditegaskan BNN KBB, ungkap Agus, semua layanan rehabilitasi diberikan secara gratis. Informasi terkait program terus disebarluaskan untuk mendorong masyarakat yang terpapar untuk berani mencari pertolongan.
"Kami mengajak mereka yang terpapar untuk datang. rehabilitasi di BNN tidak dipungut bayaran sama sekali, dan kami menyampaikan informasi ini melalui berbagai saluran, termasuk melalui tokoh agama," jelasnya.
Untuk membangun kepercayaan publik, lanjut Agus, pihaknya juga memastikan kerahasiaan identitas setiap peserta rehabilitasi tetap terjaga dengan ketat.
Menurutnya, kebijakan ini bertujuan untuk menghilangkan stigma dan ketakutan yang seringkali membuat masyarakat enggan mencari bantuan.
"Jangan takut untuk mengakui kondisi diri atau orang terdekat. Kami menjaga kerahasiaannya dengan baik karena mereka adalah korban, bukan untuk dipublikasikan," tegasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti


