TPPAS Lulut Nambo Tak Juga Diresmikan, Ini Tanggapan Ridwan Kamil
Ridwan Kamil mengaku belum memonitor kembali progres pembangunan tempat pengelolaan dan pemprosesan akhir sampah atau TPPAS Lulut Nambo.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengaku belum memonitor kembali progres pembangunan tempat pengelolaan dan pemprosesan akhir sampah atau TPPAS Lulut Nambo.
Sebelumnya, Ridwan Kamil pembangunan TPPAS Lulut Namboi akan selesai pada akhir Maret lalu. Selain itu, tempat itu pun rencananya akan diresmikan pada Juni.
"Pengelola (PT Jabar Bersih Lestari) janji peresmiannya (TPPAS Lulut Nambo) pada bulan lalu, saya akan cek lagi (kesiapannya)," kata Ridwan Kamil kepada wartawan, akhir pekan kemarin.
Baca Juga: North West Tanding Basket di Malibu, Kim Kardashian Mendukung dengan Tampilan Kasualnya
Alumni ITB itu menuturkan banyak faktor yang mengakibatkan keterlambatan pembangunan maupun peresmian TPPAS Luna yang memiliki luas 54 hektare tersebut.
"Dulu pernah alasan keterlambatan karena ada mesin atau alat yang tertahan di Taiwan, lalu ada wabah Covid-19 dan terakhir musibah yang menimpa keluarga saya," tuturnya.
Sebelumnya, Pemkab Bogor menolak rencana Pemprov Jawa Barat yang akan mengoperasikan TPPAS Luna karena sarana prasana seperti jalan, lahan pembuangan sampah hingga mesin pemrosesan sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) terlihat belum siap.
Baca Juga: Baremg Istri Ganjar Pranowo Ikuti Lomba Lari Maraton di Kota Bandung
"Karena sarana prasana TPPAS Lulut Nambo seperti jalan, lahan pembuangan sampah hingga mesin pemrosesan sampah menjadi RDF belum siap, maka kami (sebagai tuan rumah) menolak permohonan pengoperasian TPPAS Lulut Nambo tersebut," ucap Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor Endah Nurmayanti.
Endah Nurmayanti mejelaskan alasan lainnya penolakan operasional TPPAS Lulut Nambo karena tidak ramah lingkungan, karena kalau dipaksa operasional, maka merusak lingkungan di dua desa di Desa Lulut, Citeureup dan Desa Nambo, Klapanunggal.
"Kalau mesin pemrosesan sampah menjadi RDF tidak ada, berarti sama saja dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, dimana tidak ramah lingkungan," jelas Endah Nurmayanti.
Baca Juga: 10 Perupa Cilik Unjuk Gigi dalam Pameran Anak Indonesia Berani Kreatif di GPK Bandung
Dihubungi terpisah, anggota DPRD Jawa Barat asal daerah pemilihan (Dapil) Kabupaten Bogor Asep Wahyuwijaya menilai DLH Jawa Barat sebagai leading sektor tidak serius melaksanakan keinginan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, yang didukung teknologi Jerman ingin membangun TPPAS tercanggih di Indonesia.
"Keinginan Kang Ridwan Kamil atau Emil yang juga tertuang dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Jawa Barat, untuk membangun TPPAS tercanggih di Kabupaten Bogor belum juga terwujud di tahun keempat kepemimpinannya. Saya melihat DLH Jawa Barat tidak serius hingga proyek pembangunan TPPAS Luna terlunta-lunta," ujar Asep Wahyuwijaya.
Asep Wahyuwijaya yang kerap di sapa Kang AW itu pun meminta DLH Jawa Barat segera menuntaskan pembangunan TPPAS Luna, paling lambat di pertengahan Tahun 2023 mendatang.
Baca Juga: Nikita Mirzani Tidak Ditahan Usai Jadi Tersangka, Humas Polresta Serang: Ada Rasa Kemanusiaan
"Proyek pembangunan TPPAS Luna harus selesai sebelum periode kang Ridwan Kamil habis, terkait pendanaan, mereka harus membangun kajian bisnis yang 'visible' hingga investor tak lagi mundur di tengah jalan," pinta Kang AW.
Sementara itu, Kepala DLH Jawa Barat Prima Mayaningtyas melanjutkan bahwa setelah diresmikan, operasional TPPAS Luna baru sekitar 40 persen dari total kapasitas.
"TPPAS Luna, sementara akan beroperasi sebanyak 40 persen dari total kapasitas (1.600 ton perhari), hak itu setelah TPPAS Luna diresmikab oleh Kang Emil," lanjut Prima Mayaningtyas. (Reza Zurifwan)
Editor : inilahkoran


