BPDP dan Haisawit Perkuat UMKM Desa Wisata di Tanjung Lesung
BPDP dan Haisawit dorong penguatan UMKM desa wisata di Tanjung Lesung lewat pengembangan produk turunan sawit dan pelatihan masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Haisawit Indonesia bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) mendorong penguatan UMKM desa wisata melalui kegiatan desa wisata EPS di Desa Ekraf Tanjung Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Program ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat desa melalui pengembangan produk turunan kelapa sawit yang terintegrasi dengan sektor pariwisata.
Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Haisawit Indonesia M Danang MRQ, perwakilan Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Anwar Sadat, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang Rahmat Zultika.
Hadir pula perwakilan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan Doni Romdoni, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Muslin Taufiq, Kepala Desa Tanjung Jaya Astaka, serta narasumber Agus Bayu.
Direktur Haisawit Indonesia, Danang, mengatakan pihaknya hadir tidak hanya sebagai penyedia informasi dan edukasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis sawit bagi masyarakat.
“Kami ingin memastikan sawit tidak hanya dipahami sebagai komoditas, tetapi juga sebagai peluang. Program Haisawit menyasar generasi muda, profesional, hingga masyarakat melalui pemberdayaan UMKM seperti desa wisata ini,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya produk turunan sawit yang bernilai tambah dan berdaya saing.
“Ini bukan sekadar pelatihan, tetapi langkah nyata membangun ekonomi masyarakat. Bahkan, produk seperti lidi sawit memiliki potensi besar hingga pasar ekspor,” katanya.
Sementara itu, perwakilan BPDP Anwar Sadat menjelaskan lembaganya mengelola dana sektor perkebunan sawit yang dikembalikan kepada masyarakat melalui berbagai program strategis.
Program tersebut meliputi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dengan dukungan hingga Rp60 juta per hektare, mandatori biodiesel, pengembangan SDM melalui beasiswa, riset dan hilirisasi, serta promosi dan pemberdayaan UMKM berbasis sawit.
“BPDP juga mendorong penguatan UMKM dan koperasi petani melalui kemitraan, penguatan rantai pasok, serta pengembangan kawasan berbasis komoditas seperti desa wisata sawit,” jelasnya.
Dia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap manfaat kelapa sawit dalam kehidupan sehari-hari.
“Produk turunan sawit digunakan dalam berbagai kebutuhan, termasuk sektor kuliner. Selain itu, sifatnya yang ekonomis membantu meningkatkan keuntungan usaha,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, Rahmat Zultika, menilai kegiatan ini sejalan dengan program pengembangan desa wisata berbasis ekonomi kreatif.
“Kolaborasi ini dapat mendorong peningkatan perekonomian masyarakat. Produk UMKM juga berpeluang terhubung dengan industri perhotelan hingga pasar ekspor,” katanya.
Dalam rangkaian kegiatan, Haisawit Indonesia turut menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang serta Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.
Kerja sama ini bertujuan memperkuat pengembangan desa wisata berbasis komoditas perkebunan melalui peningkatan kapasitas UMKM, pengembangan produk turunan sawit, serta perluasan akses pasar.
Selain pemaparan materi, peserta juga mengikuti praktik pembuatan kerajinan berbasis sawit, seperti sandal dan taplak meja dari lidi sawit yang berpotensi menjadi produk souvenir maupun kebutuhan homestay.
Melalui kegiatan ini, Haisawit Indonesia dan BPDP berharap kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat semakin kuat dalam mengembangkan UMKM desa wisata serta meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit secara berkelanjutan. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

