BPJS Kesehatan : Hampir Seluruh Warga Bandung Terlindungi JKN
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Bandung, Greisthy Esthy Liana mengungkapkan, cakupan kepesertaan program jaminan kesehatan nasional (JKN) di Kota Bandung telah mencapai 99,98 persen.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kepala BPJS Kesehatan Cabang Bandung, Greisthy Esthy Liana mengungkapkan, cakupan kepesertaan program jaminan kesehatan nasional (JKN) di Kota Bandung telah mencapai 99,98 persen.
“Artinya, hampir seluruh penduduk ber-KTP atau berdomisili di Kota Bandung telah memiliki jaminan kesehatan yang dikelola negara melalui BPJS Kesehatan,” kata Greisthy Esthy Liana pada Selasa 24 Juni 2025.
Menurutnya, capain tersebut merupakan hasil kolaborasi erat dengan Pemkot Kota Bandung. Namun demikian, ia menyoroti masih rendahnya tingkat keaktifan peserta yang baru mencapai sekitar 79 persen.
“Kami mengajak masyarakat untuk memeriksa status kepesertaannya melalui aplikasi mobile JKN, atau mengunjungi kantor cabang BPJS Kesehatan. Jika status tidak aktif, silakan segera melakukan reaktivasi,” ucapnya.
Greisthy menyebut, penyebab utama ketidakaktifan peserta antara lain tunggakan iuran atau perubahan status dari peserta penerima bantuan iuran (PBI) menjadi peserta mandiri.
"BPJS Kesehatan terus berupaya memastikan seluruh lapisan masyarakat memperoleh perlindungan kesehatan, baik melalui iuran mandiri, dukungan perusahaan, bantuan pemerintah pusat maupun kontribusi Pemkot Bandung," ucapnya.
Terkait pelayanan kesehatan, BPJS Kesehatan dikemukakan ia menerima sejumlah masukan dari peserta terkait antrean panjang, ketersediaan obat hingga tindakan medis tertentu.
Dirinya menegaskan, seluruh fasilitas kesehatan (Faskes) telah berkomitmen memenuhi hak-hak peserta JKN.
“Jika terjadi kendala di lapangan, peserta diimbau segera melaporkan ke manajemen rumah sakit atau BPJS Kesehatan. Kami tidak ingin ada miskomunikasi atau praktik tidak profesional oleh oknum,” ujar dia.
Pihaknya juga menyampaikan, digitalisasi layanan telah membantu memperbaiki sistem antrean di Faskes.
“Dengan fitur antrean online, peserta dapat memperkirakan waktu layanan dan mengatur aktivitas harian secara efisien. Kami terus mendorong Faskes untuk memperluas digitalisasi demi kenyamanan dan kecepatan layanan,” tandasnya. *
Editor : Ahmad Sayuti

