BRIN Ungkap Wilayah Terdampak El Nino 2026, Jawa hingga NTT Terancam Kekeringan
sejumlah wilayah diperkirakan akan lebih dulu mengalami musim kemarau dengan intensitas kekeringan yang cukup signifikan, wilayah Jawa hingga NTT waspada.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengungkap proyeksi terbaru terkait dampak fenomena El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Indonesia pada 2026.
Dalam prediksi tersebut, sejumlah wilayah diperkirakan akan lebih dulu mengalami musim kemarau dengan intensitas kekeringan yang cukup signifikan.
Jawa hingga NTT Diprediksi Lebih Cepat Kering
Berdasarkan model prediksi musim yang dikembangkan BRIN, wilayah yang lebih dulu terdampak kemarau kering berada di:
- Sebagian besar Pulau Jawa
- Bali
- Nusa Tenggara Barat (NTB)
- Nusa Tenggara Timur (NTT)
Kondisi ini diperkirakan terjadi pada periode April hingga Juli 2026, seiring pengaruh El Nino yang diperkuat IOD positif.
Sebaliknya, beberapa wilayah lain justru menunjukkan pola berbeda.
Indonesia Timur Masih Berpotensi Hujan Tinggi
BRIN mencatat bahwa tidak semua wilayah Indonesia mengalami kekeringan secara merata.
Daerah yang masih berpotensi mengalami curah hujan tinggi antara lain:
- Sulawesi
- Maluku
- Halmahera dan sekitarnya
Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak El Nino dan IOD positif bisa berbeda di tiap wilayah Indonesia.
Dampak Lingkungan yang Perlu Diwaspadai
Kombinasi El Nino dan IOD positif berpotensi memicu berbagai dampak lingkungan, di antaranya:
1. kekeringan dan Ancaman Pangan
Wilayah selatan Indonesia, terutama Pulau Jawa, berisiko mengalami kekeringan yang dapat mengganggu produksi padi sebagai komoditas pangan utama.
2. Risiko Banjir di Indonesia Timur
Meski kemarau, beberapa wilayah seperti Sulawesi dan Maluku justru bisa mengalami curah hujan tinggi yang berpotensi memicu banjir.
3. Potensi Karhutla
Sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan diprediksi menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski beberapa area tetap memiliki curah hujan tinggi.
4. Peluang Produksi Garam
Di sisi lain, kondisi kemarau panjang bisa dimanfaatkan untuk mengoptimalkan produksi garam, khususnya di wilayah pesisir selatan Indonesia.
Pemerintah Diminta Siapkan Mitigasi
BRIN menekankan pentingnya langkah antisipasi sejak dini, seperti:
Pengelolaan air untuk menghadapi kekeringan
Antisipasi banjir di wilayah timur
Pencegahan kebakaran hutan dan lahan
Optimalisasi sektor yang diuntungkan seperti produksi garam
Editor : Firda Rachmawati


