Buku Dibaca Dunia Terbuka
PERPUSTAKAAN tak lagi sekadar tempat membaca. Lewat Pustaka Ceria, anakanak diajak belajar sambil bermain.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Buku-buku tersusun rapi di rak. Namun, pagi itu perpustakaan bukan tempat yang sunyi.Suara anak-anak terdengar memenuhi ruangan.
Ada yang sibuk memilih buku, mengenal sudut-sudut perpustakaan, menyimak cerita, hingga tertawa ketika boneka tangan mulai bergerak di hadapan mereka.
Suasana seperti itulah yang ingin dibangun Pemerintah Kabupaten Bogor melalui program Pustaka Ceria. Perpustakaan tidak lagi sekadar tempat menyimpan dan membaca buku, tetapi ruang yang membuat anak-anak merasa dekat dengan dunia literasi.
Program yang digagas Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bogor tersebut menyasar pelajar sejak taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Anak-anak diajak mengenal perpustakaan dengan cara yang lebih menyenangkan, interaktif, dan sesuai dengan dunia mereka.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bogor Iwan Irawan mengatakan, perpustakaan umum daerah kini terus dikembangkan sebagai ruang edukasi, literasi sekaligus rekreasi yang ramah anak.
Salah satu kegiatan Pustaka Ceria diikuti siswa SDI Bilal bin Rabah. Mereka tidak hanya diajak melihat koleksi buku, tetapi juga mengeksplorasi lingkungan perpustakaan dan mengenal sejarah lokal Kabupaten Bogor.
Bagi anak-anak, kunjungan itu menjadi pengalaman sederhana yang bisa membuka rasa ingin tahu. Buku bukan lagi sekadar benda yang tersusun di rak, melainkan pintu menuju cerita, pengetahuan, dan masa lalu daerah tempat mereka tumbuh.
Kegiatan serupa juga dilakukan bersama siswa TKS IT Rabbani, Kecamatan Citeureup.
Kali ini, buku dibaca bersama.
Fasilitas perpustakaan dikenalkan. Kemudian suasana menjadi lebih hidup ketika sesi mendongeng dimulai.
Pendongeng Kak Adit menggunakan boneka tangan untuk menyampaikan cerita edukatif. Anak-anak pun diajak mengikuti alur cerita dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Pendekatan semacam ini menjadi penting. Sebab, membangun budaya membaca pada anak tidak selalu harus dimulai dengan buku yang tebal atau suasana yang formal.
Kadang, cukup dengan cerita yang menarik, boneka tangan, ruang yang nyaman, dan kesempatan bagi anak untuk bertanya.
“Kami ingin perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Bukan hanya datang untuk membaca buku, tetapi juga belajar, bermain, mengenal sejarah, dan mendapatkan pengalaman baru,” kata Iwan dalam keterangannya.
Menurutnya, suasana yang menyenangkan diharapkan membuat minat baca dan kecintaan terhadap literasi tumbuh secara alami.
Pustaka Ceria pun tidak berdiri sendiri. Program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem literasi yang melibatkan sekolah, keluarga, perpustakaan, dan masyarakat.
Semakin banyak anak yang datang, semakin besar pula kesempatan perpustakaan untuk menjadi bagian dari keseharian mereka.
Iwan berharap kegiatan tersebut terus dikembangkan dan menjangkau lebih banyak sekolah di Kabupaten Bogor. (gin)
Editor : Inilahkoran

