Asap Mengubah Cara Belajar
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Kotim - Pagi belum benar-benar terang ketika udara terasa berbeda. Kabut tipis menggantung, jarak pandang berkurang, sementara aroma asap perlahan menyusup ke lingkungan permukiman.
Musim kemarau membawa persoalan lain bagi warga Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga ikut mengubah rutinitas anak-anak sekolah. Ketika kualitas udara memburuk, ruang kelas tak selalu menjadi tempat paling aman untuk belajar.
Karena itu, Dinas Pendidikan Kotim memberikan kewenangan kepada masing-masing satuan pendidikan menentukan apakah kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung tatap muka atau dialihkan menjadi belajar dari rumah (BDR).
Kebijakan tersebut tidak dibuat seragam. Setiap sekolah diminta melihat kondisi wilayahnya masing-masing, terutama paparan kabut asap dan kualitas udara.
“Pemberlakuan BDR di Kotim diserahkan kepada masing-masing satuan pendidikan. Pelaksanaannya sesuai Surat Edaran Bupati Kotim tentang adaptasi kegiatan pembelajaran pada musim kemarau 2026,” kata Kepala Disdik Kotim Yolanda Lonita Fenisia di Sampit, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (2/9).
Ketentuan itu tertuang dalam Surat Edaran Bupati Kotim Nomor 400.3.1/1182.1/Disdik-1/2026 tertanggal 23 Agustus 2026 tentang adaptasi kegiatan pembelajaran pada musim kemarau tahun 2026. Artinya, tidak semua anak di Kotim otomatis belajar dari rumah.
Sekolah yang wilayahnya terdampak kabut asap diperbolehkan mengalihkan pembelajaran menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) melalui skema BDR. (gin)
Editor : Inilahkoran

