Inovasi Ragi Tempe Bidik Pasar Ekspor
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Tempe mungkin sederhana di meja makan. Namun, di tangan peneliti perguruan tinggi, pangan yang sudah lama akrab dengan masyarakat Indonesia itu mulai diarahkan menjadi produk bernilai ekonomi yang bisa menembus pasar ekspor.
Peluang itu muncul dari inovasi ragi tempe yang dikembangkan tim periset Universitas Indonesia (UI) melalui Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) Kemendiktisaintek. Riset tersebut mendapat pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan melihat inovasi tersebut sebagai contoh bagaimana penelitian di perguruan tinggi semestinya tidak berhenti di ruang akademik. Riset harus diteruskan menjadi inovasi produk yang memberi manfaat bagi masyarakat dan ekonomi nasional.
“Riset sudah ada. Bahan sudah ada. Inovasi produknya nanti bisa kita buat,” kata Fauzan dalam acara Ragi Nusantara di Antara Heritage Center, Jakarta, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (2/9).
Menurut Fauzan, peluang pengembangan tempe masih sangat terbuka. Selama ini, produk olahan tempe yang banyak ditemui masih berkisar pada makanan seperti keripik dan botok.
Karena itu, diperlukan terobosan agar tempe tidak hanya menjadi pangan konsumsi sehari-hari, tetapi juga mampu memiliki nilai tambah dan masuk ke pasar ekspor.
Upaya tersebut dinilai penting seiring target pertumbuhan ekonomi nasional. Fauzan menyebut target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029 dan visi Indonesia Emas 2045 bukan perkara mudah dicapai.
Dibutuhkan perubahan paradigma dalam tata kelola pendidikan tinggi, termasuk bagaimana hasil penelitian dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Bagi Fauzan, riset berdampak bukan sekadar menghasilkan pengetahuan. Ukurannya juga terletak pada seberapa jauh hasil penelitian mampu dirasakan masyarakat, termasuk dalam meningkatkan nilai ekonomi.
Karena itu, Kemendiktisaintek mendorong perubahan cara pandang terhadap perguruan tinggi. Kampus tidak cukup hanya menjadi tempat memproduksi ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mampu melahirkan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Fauzan bahkan membayangkan inovasi ragi tempe tersebut dikembangkan bersama industri hingga menghasilkan produk yang siap masuk pasar global.
“Kita tinggal cari off-taker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor, dan nanti namanya Tempe Bestari Saintek. Ini baru dikatakan riset berdampak,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan riset pada akhirnya harus dilihat dari nilai yang dihasilkan. Apakah penelitian tersebut mampu meningkatkan harkat dan martabat ekonomi masyarakat atau tidak. (gin)
Editor : Inilahkoran

