Cegah Longsor Terulang, Dedi Mulyadi Tegaskan Lereng Curam di Jabar Harus Dihutankan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, saat meninjau lokasi longsor di Cisarua , Bandung Barat, pada Selasa (27/1/2026)

Cegah Longsor Terulang, Dedi Mulyadi Tegaskan Lereng Curam di Jabar Harus Dihutankan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyad./INILAHKORAN-Yuliantono

INILAHKORAN.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, saat meninjau lokasi longsor di Cisarua , Bandung Barat, pada Selasa (27/1/2026) menegaskan bahwa kawasan lereng dan tebing dengan tingkat kecuraman tinggi di Jawa Barat harus segera dihijaukan untuk mencegah bencana longsor.

Ia menyebut sedikitnya diperlukan penanaman kembali di area seluas 350 hektare sebagai langkah mitigasi bencana.

Menurut Dedi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak mempermasalahkan status kepemilikan lahan dalam upaya penghijauan tersebut, baik itu lahan milik Perhutani, badan konservasi, maupun tanah milik masyarakat. Namun, untuk lahan masyarakat, pendekatan persuasif tetap harus dilakukan karena hak kepemilikan melekat pada warga.

“Kalau sudah terjadi bencana, bencana itu tidak pernah memandang di mana lokasinya. Tanah Perhutani bisa longsor, taman nasional juga bisa longsor,” ujar Dedi, saat mengunjungi lokasi longsor Cisarua, ditulis Rabu (28/1/2026).

Ia menyoroti sejumlah wilayah dengan kondisi lereng curam yang saat ini sudah berada pada tingkat mengkhawatirkan. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya hidup dalam kecemasan setiap kali hujan deras atau memasuki musim hujan.

“Orang tinggal di rumah itu harus penuh kenyamanan, bukan setiap hujan cemas,” katanya.

Dedi juga menekankan pentingnya penataan fungsi kawasan hutan. Ia menegaskan bahwa hutan produksi seharusnya tetap ditanami tanaman kehutanan, bukan dialihfungsikan menjadi lahan sayuran yang berpotensi memperparah risiko longsor.

Selain itu, ia menyoroti keberadaan bangunan seperti vila yang berada di bawah lereng bukit curam. Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbahaya jika terjadi longsor, terlebih saat penghuni sedang beristirahat atau berwisata.

“Kalau terjadi longsor saat mereka tidur atau berwisata, itu akan menimbulkan masalah besar,” ujarnya.

Dedi menyebut keberadaan tanaman bambu alami di beberapa lokasi masih berperan penting sebagai penahan longsor. Ia menilai, tanpa bambu dan vegetasi berakar kuat, dampak longsor bisa jauh lebih parah.

Menanggapi pendapat ahli geologi yang menyebut longsor tidak selalu disebabkan alih fungsi lahan, Dedi menyampaikan pandangan sederhananya. Menurutnya, meskipun pemicu longsor bisa bersifat alami, dampaknya akan semakin besar jika di bagian bawah lereng tidak terdapat vegetasi penahan seperti pohon dan akar yang kuat.

“Kalau yang di atas sudah turun dan yang di bawah tidak bisa menahan, ya jatuh semua. Itu masalahnya,” kata Dedi.

Ia menegaskan bahwa longsor di kawasan hutan relatif tidak menimbulkan masalah besar karena tidak ada permukiman. Namun, kondisi menjadi sangat berbahaya ketika longsor terjadi di wilayah yang telah berubah fungsi menjadi kawasan permukiman.

“Di sini juga tidak jadi masalah kalau tidak ada kampung. Yang jadi masalah karena ada perkampungan,” pungkasnya.***


Editor : JakaPermana